Jumat, 02 September 2011

3 Days Left

Kamis-Jumat-Sabtu.

1-2-3.

Tahu lagunya Aerosmith yang judulnya I Don’t Wanna Miss A Thing? Ada liriknya yang kaya gini: I just want to lay in this moment, for all the rest of time…oooh….oooh…ooooooohhhh.

Well, oke, yang oooh di-skip aja ya. Just focus on the lyric (without oooh). Kalo diterjemahin kira-kira kaya gini artinya: saya hanya ingin berhenti di saat ini, untuk selamanya. Menghentikan waktu di saat yang paling indah menurutmu. Menurut saya. Bisa kah?

Saya pernah baca novel The Times Traveller’s Wife. Sudah ada filmnya juga. Ceritanya tentang laki-laki yang mampu melompat-lompat maju mundur ke tahun-tahun yang bahkan dia sendiri tak bisa memperkirakannya. Dia sendiri tak mampu menghentikan kemampuannya itu. Bukan kehendaknya. Tiba-tiba saja dia melompat ke tahun 1990 misalnya, lalu dari situ ia melompat lagi ke tahun 2001-tahun aktual-dan setelah itu melompat ke masa depan, 2012, dan begitu seterusnya. Dia bisa melihat masa depannya, dan masa depan keluarganya seperti apa. Ia sangat ingin menghentikan waktu di tahun aktualnya, 2001. Tapi ia tak mampu. Ia tak mampu hidup normal seperti orang lain.
Kalau bicara tentang waktu, hmm, ada pepatah mengatakan, biarkanlah luka itu sembuh seiring waktu (edisi patah hati). Lalu ada juga biar waktu yang menjawab (edisi digantung/TTMan/HTSan). Dalam kasus saya sekarang, pepatahnya adalah seandainya waktu bisa berhenti (biasanya edisi bahagia-ya iyalaaah, kalo nggak bahagia ngapain dihentikan waktunya?).

Saya sedang berada di waktu-waktu yang menyenangkan sekarang. Sekarang, tanggal 31 Agustus 2011. Lebaran hari ke-1 versi pemerintah (kenapa juga nggak ada takbir setelah isya ini? Apa karena sudah dianggap hari ke-2 versi Muhammadiyah?). Apapunlah, hari ini, empat hari sebelumnya, dan tiga hari ke depan adalah saat-saat paling menyenangkan setelah hari-hari penuh rutinitas dan menguras emosi serta menguji kesabaran yang saya hadapi sebelumnya. Bukan berarti sebelumnya saya nggak bahagia, bukaaaan. Berada di satu tempat, berkumpul bersama suami dan anak adalah hal yang membahagiakan saya. Cuma ada beberapa hal yang membuat emosi saya naik turun. Ada beberapa perkataan dari seseorang-atau beberapa orang-yang membuat saya harus bersabar, tidak jarang membuat saya mengeluarkan air mata saking kesalnya tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Situasi dan kondisi yang membuat kemampuan adaptasi saya diuji. Mungkin saya terlalu pintar beradaptasi sehingga apapun yang terjadi saya tak kuasa mengeluarkan argument dan lebih bersikap menerima saja. Tapi itu bukan saya. That’s definitely NOT me. Saya yang sebenarnya adalah orang yang hampir selalu mempertanyakan alasan di setiap pernyataan atau perintah yang menurut saya aneh dan tidak masuk akal. Saya yang sebenarnya adalah orang yang – hey, stay away from my business, I’ll ask you for help if I need to, if not, just mind your own, do not interrupt me – tapi tak bisa. Saya yang sebenarnya adalah orang yang tegas, praktis, simple, dan ga bisa basa-basi. That’s almost me. Tapi tak bisa. Kondisi yang sekarang membuat saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Itu yang membuat kebahagiaan saya berkurang.

Aaaanywaaaaay, kenapa saya ingin menghentikan waktu sekarang?
Karena saya sedang berada di suatu tempat - bersama anak dan suami saya, plus bonus kedua orangtua saya serta adik saya semata wayang – dimana saya tidak perlu setengah-setengah menjadi diri sendiri. Saya bisa merasa bahagia sekaligus full menjadi diri sendiri. Saya berada di rumah. Ya, rumah. This what I called home. Being yourself, and you are happy. Disini saya bisa tertawa lepas, bebas bercengkerama tanpa ada yang takut tersinggung, bebas mengekspresikan diri saya (yang kata orang suka aneh dan ‘langka’), berada di antara orang-orang yang mengerti saya, dan memakluminya (itu yang terpenting). Saya tidak perlu merasa capek hati, makan hati, dan sebagainya yang sejenis itu karena saya sudah hapal karakter keluarga saya.

Rumah orangtua saya nggak ada pembantu. Jadi saya cuci baju dan seterika sendiri, serta cuci piring dan beres-beres sendiri. Di rumah saya sendiri, ada pembantu. Saya mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga. Satu untuk mengasuh anak saya saat saya bekerja, satu untuk pekerjaan rumah tangga. Seharusnya saya lebih merasa capek di rumah orangtua saya, tapi entah kenapa, saya tidak. Sama sekali tidak.
Saya jauuuuuuh merasa lebih capek berada di rumah sendiri. Meskipun situasinya sama, sedang libur lebaran seperti sekarang ini. Saya harus pandai-pandai menata hati saya. Harus memilah-milah mana yang bisa diomongkan, dan mana yang tidak. Mana yang harus saya ceritakan, mana yang saya simpan sendiri. Mana yang bisa dibuat bercanda, mana yang tidak. Penuh kepalsuan, saya disana. Pathetic. Me, pathetic. Kalau bukan karena anak saya, saya tidak akan tahan. Bukankah emosi negative ibu mempengaruhi emosi anak juga? Jadi emosi itu saya tekan demi anak. Anak saya adalah obat antidepresi paling manjur untuk saya.

Rasanya berat sekali, melewati tiga hari ke depan nanti. Mengingat saya akan kembali ke daerah tempat suami saya tinggal, dan ini diaaaaa, welcoming the mask full of faking. Faking faking faking. Bukankah kita masing-masing juga punya topeng? Yang digunakan di waktu-waktu tertentu. Tapi buat saya disana, topeng itu saya gunakan setiap waktu. Sekali lagi, pathetic.

Dear my family, thank you for giving me this best eight days. Thank you for brightening my heart. For refreshing my mind and soul. Harus sering-sering nih kaya gini, sayang jauh, hiks. Atau mmm, kalian aja yang ke Yogya? Berkunjung barang seminggu atau dua minggu? Hohoho..tampak tidak mungkin. Always wishing you a great luck, and health, and wealth, and happiness, and always in protection of our GOD – Allah SWT. Amin.

-KacangMerah- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar