Selasa, 31 Juli 2012

Kau suka temanmu?


Temanku bercerita dia sedang dekat dengan seorang lelaki.
Lelaki itu telah menyatakan rasanya tapi temanku menolak.
Katanya lebih nyaman menjadi teman.
Maka sekarang mereka (sangat) dekat sebagai teman.
Ketika kutanya, apa ada rasa? Ia menjawab ada.
Maka pertanyaanku bagaimana caranya kau menahan rasa itu tidak membesar? Padahal selalu bersama.
Ia menjawab, jikalau kamu sering mengalami sakit hati, putus cinta lalu jatuh cinta lagi maka hatimu akan lebih kuat. Ia lebih mampu beradaptasi mengatasi. Menjadi lebih fleksibel (emangnya karet :).


Lalu kutanya seberapa besar rasa sukanya? Ia menjabarkan rasa sukanya dari skala 1-10 adalah 3.
Ah, berarti tak suka menurutku. Kalau suka seharusnya ia mendapat 50%, bukan kurang.
Aku tak mampu atau tak mengerti sikapnya. Bisakah kau berteman seperti itu?

Dia sendiri pernah bilang, laki-laki itu jgn diberi kesempatan secuil apapun. Mereka akan cepat mengejarnya.

Bila seperti ini bukankah menyakitkan? Atau azas manfaat? Saling memanfaatkan?

Sepertinya dulu aku juga punya kasus seperti ini, ia suka tapi aku tidak. Karena ada rasa maka kucoba jalani tapi makin lama justru tak nyaman. Aku tak ingin menyakiti dgn memberi harapan lalu pergi meninggalkan.
Maka kujauhi dia. Agar dia bisa melupakan rasanya.

Mungkin sedikit kejam tapi bila aku diposisi laki-laki itu, aku memilih diperlakukan begitu.



 



....
Jangan beri aku harapan kosong.
Jangan mengasihaniku.
Tidak ada teman sejati bila kau memendam rasa,
Karena perih yg akan diterima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar