Rabu, 17 Oktober 2012

Gemuruh ombak pantai utara tidung


Tahu lagunya Ipang yang Sahabat Lama ? Lirik pertamanya “Baru saja berakhir… hujan disore ini… mengisahkan keajaiban… kilauan indahnya pelangi..”

Aku selalu suka saat-saat setelah hujan. Jalanan basah, udara segar dan cuaca pun tidak terlalu panas tapi sejuk dan Matahari perlahan-lahan muncul mencerahkan hari ini.

Lagu itu mengingatkanku pada saat aku melewati padang rumput yang luas di Pulau Tidung. Salah satu pengalaman berpetualang bersama Adik Perempuanku, Lia.

Perjalanan ke Pulau Tidung dimulai pada hari Jumat pagi Tgl 28 Mei 2010 bersamaan dengan liburan Hari Waisak. Beberapa bulan ini Pulau Tidung sedang ramai diperbincangkan dan dikunjungi orang. Kami pun tertarik berkunjung. Lia yang mencari tahu dari temannya di BINUS, mereka memberikan paket 3 hari 2 malam seharga Rp. 350.000.

Paket termasuk Ongkos Kapal PP ke Pulau Tidung, Snorkeling di Tgl 29 Mei 2010, Penginapan dan Makan 3 kali.

Contact Person dari Paket itu menyuruh Kami untuk berkumpul di Muara Angke Jam 6.00 pagi. Dari Rumah BSD Kami berangkat Jam 5 pagi. Dimulailah petualangan dua perempuan naik dari satu bis ke bis yang lain dan Kami masih buta arah ke Muara Angke. Ada beberapa petunjuk tapi masih Kami ragukan.

Dari Kebon Nanas Tangerang Kami turun di Kebon Jeruk kemudian melanjutkan dengan Mikrolet untuk turun di Citraland. Sebenarnya tidak tepat di Citraland. Kami tidak tahu supir mikroletnya membawa Kami ke jalan tikus mana sampai akhirnya Kami harus berjalan lagi menuju ke jalan rayanya.

Kami berjalan menyusuri jalan di daerah itu dan langsung berhenti ketika menyaksikan ada sekerumunan orang yang sedang tertidur di jalan tersebut. Mengherankan, kenapa mereka memilih tidur dijalanan? Aku pernah melihat di TV, sekumpulan orang yang tidur di bawah jembatan tapi tak pernah melihat yang tidur di jalanan terbuka seperti ini.

Bila dilihat dari pakaiannya, mereka mungkin pengemis atau gelandangan. Entahlah, Kami tidak berhak menamai mereka..

Mereka hanya berselimutkan kain sarung kusam dan beberapa justru tanpa baju tapi mereka tetap bisa tidur dengan nyenyak. Mereka tidur terlentang di sudut kiri dan kanan jalan, menyisakan kekosongan ditengah-tengahnya untuk orang-orang yang akan lewat.

Kami kasihan dan juga takut. Bagaimana bila ketika Kami lewat, tiba-tiba mereka langsung bangun dan mulai mengejar Kami seperti di film-film mayat hidup?!

Lalat-lalat berterbangan diatas tubuh mereka. Ibu dan anak tidur saling berpelukan.
Terdapat parit besar di samping kanan jalan, tempat pembuangan air yang sudah menghitam dan jelas tercemar.
Ironis, sebuah sisi kehidupan yang terlupakan di daerah ibukota.
Kami melewati mereka dengan berjalan pelan-pelan dan hati-hati, mencoba untuk tidak mengeluarkan suara agar tidak membangunkan mereka.

Begitu sampai di jalan raya di depan lampu merah, Kami memutuskan untuk naik Taksi karena jam sudah menunjukkan pukul 6.50 pagi.
Berbekal petuah dari temanku yang sudah pernah ke Pulau Tidung, Ia menyebutkan bahwa kapal berangkat jam 7 pagi jadi kupikir mungkin Si Contact Person cuma mempercepat waktu berkumpul agar tidak ada yang terlambat.
Sementara itu Lia dan si Contact Person terus berkirim sms dan menelpon memberikan kabar bahwa Kami sedang dalam perjalanan kesana. Tersirat pesan penting: ‘Tolong-Jangan Tinggalkan-kami…!’
Anehnya entah kenapa, Kami tidak merasa takut sama sekali kalau akan tertinggal atau batal berangkat. Mungkin jauh dilubuk hati, Kami percaya tidak mungkin ditinggal.

Kami sampai di Muara Angke Jam 7.10 pagi. Lia berusaha menghubungi si Contact Person itu Iagi. Dia mengarahkan Kami untuk menemukan jalan masuk ke pelabuhan. Jalanan becek luar biasa, padat dengan orang-orang terutama anak muda. Aku hampir berpikir jangan-jangan semua mahasiswa Binus sedang Study tour ke Pulau Tidung semua. Putih-putih semua sih!

“Mana orangnya? “ tanyaku ke Lia, dia pun kebingungan.

Lia masih menelpon orang tersebut. Kami mencari-cari dikerumunan orang-orang ini.

“Hah? Baju kuning? Iya Baju kuning?” kata Lia kepada orang di handphonenya.

Kemudian Seseorang menepuk bahu Lia, “Juppy.”katanya memperkenalkan diri ke Kami.

Pria muda ini berumur sekitar 22 tahun. Yang membedakan dia dari orang kebanyakan adalah warna kulitnya yang hampir hitam semua dan kurus. Terakhir Kami baru tahu kalau dia orang Bali.
“Kapalnya sudah berangkat tadi jadi kita tunggu yang berikutnya. Gw masih harus nungguin satu kelompok lagi yang telat.”kata Juppy memberitahukan seraya mengitari kepala diantara kerumunan kepala, mungkin berharap kelompok itu memunculkan kepala mereka satu persatu. See! Selalu ada yang terlambat. Hidup Indonesia!
Rasanya sudah hampir 30 menit Kami menunggu, tak jua muncul kelompok keparat itu. Ditengah teriknya matahari yang menyilaukan mata, suasana yang luar biasa tidak bersih dan padatnya pengunjung, Kami terpaksa berteduh kalau tidak mau menghitam sebelum sempat melihat Pulau Tidung.

Juppy masih berjuang menghubungi kelompok tersebut. Kami menyingkir ke sebuah toko yang tutup untuk berteduh bersama pengunjung lain yang masih menunggu kedatangan kapal mereka. Berhimpit-himpitan untuk berebut tempat ternyaman yang tidak terkena sinar matahari.

“Padat banget hari ini ya? Pada mau kemana sih?” tanya teman Juppy. Mereka baru saja berjumpa ditempat itu.

“Pulau Tidung. kalian mau kemana?”

“Pramuka, nih dah bawa tenda.”

“Ngapain?! gak ada kapal lagi tuh, mending ke Tidung aja bareng gw! hehehe” kata Juppy menghasut.

Mendadak Handphone Juppy berbunyi. Kami menyimak. Tak beberapa lama kelompok itu terlihat.
Anak mahasiswa lainnya. Mereka berjumlah 4 orang salah satunya perempuan. Juppy mulai berbicara kepada mereka, memberitahukan informasi kapal yang sebelumnya telah dia beritahukan kepada Kami.
Juppy memanggil Kami untuk menghampiri, “Karena kapalnya sudah berangkat jadi kita harus numpang sama kapal yang lain sekarang.” Kata Juppy memberitahukan. Kami tidak keberatan yang penting segera berangkat dari tempat ini sebelum mulai mengering bersama ikan asin dan cumi-cumi.

Juppy mulai mencari tahu kapal-kapal yang bertujuan ke Pulau Tidung. Kami mengikuti tepat dibelakangnya.
Kapal didepan Kami menuju ke Pulau Tidung, Aku yakin Juppy pun mengetahui itu. Karenanya dia menyuruh anak-anak dari kelompok terlambat tadi untuk langsung naik ke kapal tersebut, tepatnya ke atas dek kapal tersebut.
Tepat ketika Aku dan Lia mau naik juga ke kapal, Kami mendengar teriakan-teriakan dari penyelenggara tour, pemilik kapal tersebut.

“Bagi peserta yang tidak terdaftar sebagai peserta Jalan-jalan ke Pulau Tidung, harap keluar dari kapal ini! Karena Kapal ini khusus untuk peserta Jalan-jalan ke Pulau Tidung. YANG TIDAK TERDAFTAR MOHON KELUAR DARI KAPAAAL!!” teriak mereka dengan nada kesal melalui TOA.

Aku pun berbisik ke Juppy memberitahukan bahwa, “Kita seharusnya minta ijin dulu ke mereka.”
Juppy menggangguk paham tapi dia menyuruh kelompok tadi tetap diam ditempat mereka.
Pelan-pelan dan mencoba seramah mungkin Aku mencoba bertanya kepada salah satu panitia yang tampangnya ramah dan melihat kearah Kami sedari tadi.

“Mas, Sorry Kami bisa ikut numpang gak ya?”

“Nanti ya, dihitung dulu semuanya.”jawabnya cepat.

“Sip, Kami gak banyak kok, cuma 7 orang” tambahku, tak lupa tetap tersenyum semanis mungkin.

Lia tiba-tiba menarik tanganku, “Gak usah ikut campur!” katanya ketus.

“Ini namanya negosiasi, diam aja klo gak ngerti.”balasku kesal.

Panitia penyelenggara itu berkali-kali menghitung dan berkali-kali membolak-balik buku laporannya memastikan jumlah peserta mereka tidak dimanipulasi orang asing.
Anak-anak muda ini kelihatan stress menghandle padatnya peserta mereka, belum lagi rongrongan dari Nahkoda kapal yang ingin kepastian jumlah peserta sebelum berangkat dan terpaan teriknya sinar matahari membuat keadaan semakin memanas saja.
Setelah mereka selesai menghitung, mereka mulai bertanya jumlah peserta Kami yang akan menumpang. Juppy memberitahukan ada 7 orang.
Panitia itu menghitung-hitung, “Cukup gak ya? Orangnya mana?”
Juppy menunjuk kepada 4 orang yang duduk melingkar, memperebutkan 1 sarung bali untuk menutupi kepala mereka berempat. Mereka duduk tepat di ujung dek terdepan.

“Sisanya Kami bertiga.” Katanya menambahkan.

“Hm..Kalau begitu bisa.”kata panitia penyelenggara.

“Alhamdulillah,bayar berapa ya?”tanyaku

“33 ribu, satu orang.”

“Oke, nanti gw bayar pas udah sampe di pulau ya.”kata Juppy.

“Oke.”

Dalam hati Aku sangat berharap bisa dapat gratis. hahaha


Aku menyuruh Lia mencari tempat duduk di dalam dek, pasti bisa matang kalau duduk di atas dek. Juppy dengan enggannya terpaksa menemani kelompok tadi diatas dek karena mereka tidak mau disuruh masuk.

“Gak takut hitam?”gurauku

“Gak papa udah hitam ini” jawabnya tersenyum. Iya sih, Terlihat dengan sangat jelas.. kataku dalam hati. hahahaha

Aku dan lia mencoba melompat masuk kedalam dek kapal. Kami menggeser-geser pantat-pantat yang lain untuk membuat tempat kosong agar Kami bisa duduk selama 3 jam perjalanan.

Begitu kapal merapat ke dermaga, Kami bisa melihat beningnya air laut pulau tersebut. Airnya Hijau dan terlihat jelas pasirnya pun putih. Wuiihhh, rasanya ingin langsung nyebur saja!

Penumpang yang lain sepertinya memiliki hasrat yang sama denganku.

Kami dijemput oleh temannya Juppy yang ternyata bos dari penyelenggara paket tour ini. Ia sepertinya masih sebaya dengan Juppy hanya saja lebih putih. Menurutku dia dari keturunan Arab.

Kami dibawa ke tempat penginapan yaitu sebuah rumah penduduk yang disewanya.

“Tidak ada penginapan di pulau ini apalagi resort” katanya. Kelak Kami tahu bahwa tidak semua ucapannya bisa dipercaya.

Rumah itu kelihatannya kecil dari depan tapi begitu masuk, rumah ini mampu menampung lebih dari 20 orang, bila dipaksa. Kami menemukan ada sekitar 10 orang laki-laki yang tidur bertebaran di ruang tamu dan ruang TV. Mereka tidur di kasur yang terhampar di lantai-lantai rumah bahkan ada juga yang tidur hanya dilapisi tikar.

Perempuannya hanya ada 2 dan 3 orang yang Kami lihat.

Beberapa mata mengikuti Kami, ketika masuk. Rasanya tidak nyaman sekali tinggal satu rumah dengan sekelompok laki-laki asing sebanyak ini, tapi mau bagaimana lagi?! What do you expect from a journey which only cost 350.000 for 3 days?

Ada 3 kamar dirumah itu. Dia mengantarkan Kami ke kamar diruang tengah. Kamarnya kecil, diisi oleh lemari kayu tua dan satu tempat tidur kapuk ukuran besar dua orang. Hanya ada Jendela kecil yang memberikan udara segar dari luar. Kecil sekali, hanya sebesar monitor komputer 15 inci.

Kemudian dia juga tidak lupa menambahkan kesengsaraan kamar Kami ini : “Nanti satu kamar berempat ya. Mereka (2 Orang perempuan itu) sepertinya lagi jalan-jalan.”

Baiklah, kami akan tidur berhimpit-himpitan dengan dua orang perempuan asing lainnya, dikamar sempit dan diatas satu kasur kapuk tua ini.

Ketika dia meninggalkan Kami dikamar itu, Kami langsung merebahkan diri di kasur kapuk itu. Seketika itu debunya naik dan memenuhi udara dikamar. Tapi entah kenapa, hal itu sama sekali tidak mengganggu niat Kami untuk tidur. Tapi berhubung lapar dan samar-samar Kami mendengar Juppy memanggil nama Kami untuk makan, Kami pun langsung keluar kamar.

Segerombolan Laki-laki yang tadi terhampar disepanjang ruangan, tiba-tiba lenyap. Mungkin mereka juga sedang jalan-jalan berkeliling di pulau ini. Syukurlah, rasanya lebih nyaman dengan sedikit orang.

Juppy menyerahkan nasi goreng didalam kemasan sterofoam kepada Kami. Kami duduk di lantai teras rumah. Makan bersama Juppy dan temannya. Kami saling memperkenalkan diri.

“Sorry tadi namanya siapa? Adi? Ali ?”tanyaku

“Nama lu gak jelas sih.”kata juppy ke temannya. “Kadang-kadang namanya bisa jadi Asep.”kata juppy ke Kami.

“Iya kemarin malah ada yang manggil gw joko.”

“Hahahahaha..”

“Jadi kalian tahu paket ini dari mana?”tanya Adi (Akhirnya dia setuju dipanggil Adi).

“Dari facebook.”jawab Lia singkat.

“Oh…..”

“Eh,Gimana nasinya?”tanya Adi lagi.

“Lumayan. Gw laper soalnya.”jawab Juppy rakus.

“Gak enak.”jawab Lia santai tanpa melihat ke Adi.

“Bagus ini jujur.”kata Adi tertarik. “Emang gak enak, biasa aja.”kata Adi tampak kagum dengan kejujuran Lia.

Yah, Aku juga kagum dengan kecuekkan si lia. Ini Anak..nurunin sifat siapa ya…???

“Sebenarnya ini cuma compliment, kan jatah makan cuma 3 kali.”kata Adi.

“kalian kuliah dimana?”Tanya Adi lagi.

“Gak kuliah.”jawab Lia santai.

“Ooh masih Smu ya..?”

Lia diam saja. Aku hanya menahan senyum pura-pura tidak mendengar tapi lirik-lirikan dengan Lia.

“Terus kalian kok bisa bareng, teman sekolah ya?”tanya Adi ke Lia.

“Gak.”

“Rumahnya dimana?”

“BSD.”

“Terus lu dimana?”tanya Adi ke Aku.

“Bsd jg.”

“Oh tetanggaan ya. Orang mana?”

“Aceh!” Jawab Aku dan lia bersamaan.

“Wuih,tetanggaan terus sama-sama orang Aceh pula ya.”

“Hahahahaha” akhirnya Aku tertawa juga melihat kebodohan ini.

Lia pun mulai tersenyum. Dua laki-laki itu melihat Kami dengan bingung tapi diam tak berkomentar.

“Kalau lu kuliah dimana juppy?”tanyaku.

“Binus. Dia juga binus.”kata Juppy ke Adi. “Cuma angkatan dia lebih tua. Kagak lulus-lulus sibuk ngurusin bisnis mulu, si bos ini.”

Adi tertawa menanggapinya.

“Oh, emang keliatannya seumuran sih.”kataku.

“Iya, malah kemarin ada yang bilang Kami kayak saudaraan.”kata Adi.

Hahahahaha, Saudaraan zebra cross!

“Sama dong, Kami juga saudaraan.”tambah Lia melirikku sambil tertawa.

Sepertinya tidak ada dari mereka yang percaya ucapan Lia.

“Kok gak bawa cowoknya?”tanya Adi

“Harus ya?”jawabku bingung.

“Hm..gak juga sih. Bagus-bagus emang lebih enak jalan sendiri ya..?!”kata Adi tersenyum genit.

“Gw gak tepat ya ngomongnya..?”tanya dia ke juppy sambil cengengesan lalu melirik Lia.

“Iya,gak tepat lu. Eh,Gw mau sholat jumat dimana ya? Sholat jumat yuk?!”

Juppy adalah orang Bali tapi Bapaknya satu-satunya dari keluarga besarnya yang menjadi mualaf.

“Ada mesjid disana..”kata Adi tak tertarik.

“Iya pada sholat jumat sana..”ujarku.

Begitu Kami kembali ke kamar sudah ada 2 perempuan yang sedang tidur. Karena terlihat masih ada posisi kosong untuk 2 orang disitu Kami pun tidur juga.

10 menit kemudian 2 orang perempuan itu langsung beranjak bangun.

“Aduuh, debunya.. Gw gak tahan lagi” kata salah satu perempuan yang lebih pendek. Dia langsung melengos keluar kamar. Temannya mengikuti di belakangnya.

Aku dan Lia lihat-lihatan. Apa tadi salah kita ya? Debu kapuknya jadi naik ketika kita tidur? Ahhh, bodo amatlah, bayar ini.

Aku dan Lia pun menutup mata lagi.

Baru tidur 15 menit Aku terbangun lagi. Rasanya tidak nyaman sekali, kamar ini pengap dan panas bukan main, mungkin karena Kami berada di pulau.

Kamar ini tidak ditutupi triplek diatasnya, hanya menggunakan kain seprei sebagai penutup agar kayu penyangga atapnya tidak terlihat. Tadi sepertinya Aku melihat siluet tikus lewat dan membentuk di kain tersebut.

Dalam hati aku langsung berdoa, Tolong lindungi tikus itu ya Allah, jangan sampai dia JATUHHHH…..!!

Aku membangunkan Lia. Ini anak kalau tidur gak lihat kondisi..! Bisa-bisanya dia tidur nyenyak!!

“Lia jalan-jalan yuk..! Panassss,gak bisa tidur.”

Butuh waktu 5 menit untuk membujuk Lia melepaskan bantal gulingnya.

“Aggrrhh.. ya udah.”ujarnya kesal.

Kami memilih berjalan ke arah pantai di Barat. Pantai yang membawa semua orang-orang ini berkunjung ke Pulau Tidung. Berjalan dan terus berjalan. Iri juga rasanya setiap kali melihat orang-orang yang lewat dengan menaiki sepeda. Sepertinya menyenangkan sekali.

“Lia kok kita gak dapat sepeda sih?”tanyaku.

“Kan tadi si Adi udah bilang. Karena banyak orang yang datang hari ini, jadi gak kebagian. Seharusnya paket itu udah termasuk penyewaan sepeda. Tapi mau gimana lagi?!”

“Gak bisa gitu dong, kita kan udah bayar! Harusnya dia berusaha dong biar dapat. Orang lain bisa dapat, kenapa dia gak bisa??”

“Ya sudahlah, berisik tau..!!”

“Iiiiiih..!!”

Untuk menuju pantai, Kami berjalan kaki kurang lebih 2 km. Percayalah tidak akan terasa kalau dilakukan dengan santai. Walau lama-lama putus asa juga ketika tidak kunjung terlihat pantainya. Jalanan setapak yang melingkari pulau itu lebarnya hanya sekitar 2 meter jadi kalau ada 2 motor atau 2 sepeda yang akan lewat bersamaan, kita terpaksa menyingkir dulu ke pinggir jalan.

Sepertinya motto Pulau ini adalah ‘Hormati Pengendara Roda Dua dan Menyingkirlah Pejalan Kaki Dua ’.

Untuk menuju pantai, Kami melewati sebuah sekolah SMKN. Kunjungan orang-orang ini memberikan pelajar-pelajar itu sarana untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka membuka tempat parkir sepeda. Sepeda-sepeda itu tidak boleh masuk ke kawasan pantai. Mungkin ada ratusan sepeda yang terparkir disana. Benar kata orang pulau itu, salah satu ciri khas Pulau Tidung adalah sepeda sebagai alat transportasi utama.

Sepeda yang digunakan adalah model sepeda tua dengan keranjang didepan, tak lupa bel yang disematkan direm tangan sepedanya. Kring..kring..! Aghhh, Aku pengen coba!!

“Lia, kalau ada yang lewat lagi. Kita numpang dibonceng aja yuk?”kataku bersemangat.

Lia melihatku dengan malas lalu kembali berjalan tanpa berkomentar.

“Agh, gak asik!” ejekku.

Pantainya banyak karang dan batu. Pasirnya putih tapi permukaan di pinggir pantai tidak baik. Berbatu-batu karang. Tidak ada daerah di pinggir pantai yang mulus. Kami berada di Pulau Tidung Besar dan untuk menuju Pulau Tidung Kecil harus melewati Jembatan kayu yang menghubungkannya.

Sepertinya semua pengunjung berkumpul di pantai ini, mereka banyak yang berfoto di jembatan-jembatan kayu atau sekedar duduk dipinggir jembatannya.

Ada beberapa orang yang melompat ke laut dari satu-satunya Jembatan besi disitu. Kami juga menemukan ada yang snorkeling disitu. Emang ada yang bisa diliat ya?? kayaknya cuma batu karang aja disini.

Kami terus berjalan hingga sampai di Pulau Tidung kecil. Kami melihat sampah bertebaran dipinggir pulau. Menyedihkan, ada plastic bekas, softex, pampers dan bungkus-bungkus makanan. Banyak sekali sampah tersangkut dipinggir pantai. Rasanya sampah-sampah itu bukan hasil produksi dari warga pulau ini, bisa dipastikan itu sampah yang terbawa arus dari Jakarta dan sekitarnya. Tapi justru pulau ini yang menjadi korbannya.

Para pengunjung pasti berpikir dua kali untuk mengunjungi pulau ini lagi. Tak ada lagi yang bisa dinikmati. Tadinya Kami ingin ikut kelompok didepan Kami yang ingin menyusuri Pulau Tidung kecil. Tapi berhubung sudah mau hujan, Kami memutar haluan untuk segera pulang.

Terdapat penjual-penjual dadakan disekitar pantai. Mereka menjual makanan-makanan seperti Bakso tak ada rasa, Indomie dimasak bersama bungkusnya, Somay hampir sekeras batu, Es cendol rumput laut dan serupanya.

Penjual-penjual ini sepertinya hanya mengambil kesempatan dadakan dari kunjungan wisatawan tanpa persiapan yang baik. Ketika pembeli memberikan uang 50 ribuan mereka langsung kebingungan untuk menukarnya. Kami jadi batal makan Soto gara-gara melihat tidak ada uang kembalian.

Belum lagi ada penjual kopi yang kehabisan air panas. Terus ngapain nangkring disitu!

Kami kembali ke rumah penginapan untuk mengantri mandi. Ada 20 orang dan Kami semua mengantri pada satu-satunya kamar mandi dirumah itu.

Kami berkenalan dengan teman sekamar Kami yang tadi kabur setelah Kami ikut tidur. Mereka wanita berumur 30an yang doyan travelling.

Yang lebih tinggi bernama Astrid, dia Guru di sekolah Internasional. Awalnya dia pegawai swasta kemudian melamar jadi Guru karena dengan begitu dia bisa mendapat hari libur lebih banyak. “Kan kalau murid-murid gw libur, gw juga ikut liburan.” Bikin Iri saja..

Satunya lagi lebih pendek, namanya Yurika. Perempuan yang kritis. “Kalian shock gak waktu pertama kali kesini?”

“Hah..?”tanya Kami tak mengerti.

“Masa kita perempuan digabungkan dengan laki-laki sih?! Yah, walaupun masih anak kecil semua nih. Seumuran keponakan gw. Tapi kita kan tetap gak nyaman. Tahu gak? Diantara semua kamar cuma kamar kita aja yang gak pake kipas angin! Yang lain pada ada tuh, coba aja liat.”

“Oh ya..??!”kataku tak percaya, mulai terhasut.

“Maksud gw, 350.000 juga duit. Semua orang bayar sama tapi kenapa dibeda-bedakan kayak gini sih?! Lu liat kamar cewek dibelakang tuh. Itu kamar isinya temannya si Bulu Babi semua tuh. Kayaknya tuh kamar lebih bagus dibanding yang lain.”

“Bulu Babi?”

“Si Adi.”

“Oooh..”

“Belum lagi lu liat tadi anak laki-laki yang tidur didepan kamar ?! Mereka udah gw kasih spring bed, sih. Sebelumnya malah tidur cuma pake tikar doang?! Bisa masuk anginlah dari lantainya. Gak mikir apa si Adi itu ya..???!.”

“Mungkin ini pertama kalinya dia bikin acara tour kayak gini.”kata Astrid menenangkan temannya.

“Well, walaupun begitu tapi lu kan bawa orang banyak. Menyangkut jiwa orang, gak bisa main-main juga dong.”kata Yurika protes.

“Iya sih..”kataku setuju.

“Oh ya, Ntar gw dan astrid tidur di kursi ruang tamu aja. Gak tahan gw tidur berempat kayak tadi. Debunya naik semua, ntar.”

“Oh, emang gak papa kalian tidur diluar?”tanyaku tak enak.

“Disini juga gak bisa tidur.” Kata Astrid seraya tersenyum.

“Lagian anak kecil semua isinya..”kata Yurika menambahkan.

Hari sudah malam, Kami memutuskan untuk jalan-jalan keluar. Rencananya adalah berjalan sampai capek jadi begitu sampai rumah bisa langsung tertidur.

Semua rumah warga sepertinya full booked oleh pengunjung. Kami melihat ada rumah yang menyediakan Playstation juga. Melihat sepeda terparkir didepan rumah mereka terbersit niat untuk meminjam diam-diam.

Jalanan setapak yang Kami lewati juga tidak diterangi lampu jalan hanya diterangi lampu dari rumah-rumah warga dan sinar bulan. Keadaannya cukup gelap.
Terus berjalan, Kami melewati Puskesmas yang sedang mengiklankan pencegahan Malaria. Inilah Puskesmas layaknya bangunan di kota besar, lebih mewah dibandingkan bangunan manapun di pulau ini. Awalnya Kami sangat berharap itu hotel.

Kami melewati dermaga yang membawa Kami kesini tadi siang. Terus berjalan dan melewati sebuah taman dengan beberapa kursi melingkari meja. Pintu masuk taman dihiasi lampu kerlap kerlip tapi didalam taman justru tak ada lampu sama sekali jadi taman itu benar-benar gelap luar biasa.

“Liaaaaa…!! Liaaaaa..!!” Terdengar suara-suara dari arah taman itu.

“Jangan noleh!”kata Lia melarangku.

“Mereka manggil Lia ya?”tanyaku penasaran.

“Iya, biarin aja. Pura-pura aja gak dengar. Males ah...”

“Siapa sih tuh? Si Adi sama Juppy ya?”

“Iya.”

“LIAAAAAAAAAAA…!!”

“Buset makin kencang aja tuh..”kataku geli.

“Udah biarin aja.”kata Lia, tak peduli.

“Eh ntar mereka bilang, Cantik-cantik kok budek . Hahahaha..”

“Biarin..”kata Lia tak peduli.

Sampai Kami melewati taman itu suara-suara panggilan masih terdengar.

“Mereka pantang menyerah juga ya. Hahahaha…”ujarku geli.

Kami berjalan sampai capek. Terbersit pikiran untuk berjalan sampai ke pantai Utara yang diceritakan Yurika, lebih bagus dari pantai dibarat tadi. Tapi apa yang bisa dilihat dengan kondisi gelap begini. Kami berdebat karena bingung harus berjalan sampai mana. Walau kaki sudah lelah tapi tidak yakin bisa langsung tidur begitu sampai di rumah. Rasanya belum cukup ampuh untuk bisa membuat tidur. Kami pun terus berjalan.

“Ya udah, kita duduk aja terus ngobrol-ngobrol sama warga sini.”kata Lia memberi usul.

“Dimana tapi?”tanyaku.

Kami melihat ada seorang ibu sedang duduk di kursi kayu panjang tanpa senderan. Tak jauh dibelakangnya terdapat pohon kelapa. Sepertinya duduk disitu terlihat nyaman. Ia sedang melihat ke arah penginapan didepannya. Melihat aktivitas pengunjung disitu.

Kami menghampiri.

“Ibu boleh numpang duduk..?”tanya Lia ramah.

“Ooh boleh-boleh.”jawab ibunya memberi tempat.

“Rame banget ya bu?”tanyaku.

“Iya, bulan ini yang paling rame.” Kata ibu itu. “Kalian tinggal dimana?”

“Disana.”tunjuk si Lia.

“Rumah siapa?”

“Punyanya si Adi..”

Si Ibu masih menagih jawaban, tampangnya masih penasaran. Sepertinya dia tidak kenal dengan si Bulu Babi.

“Dimana itu?”

“Di barat bu.”jawabku cepat.

“Oh jauh banget jalannya sampai kesini.”

“Iya bu, biar nanti begitu pulang udah capek jd bisa langsung tidur.”kata Lia tersenyum.

“Ooh..”

Tak lama datang seorang bapak bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendek merah, mengikuti obrolan Kami. Dia seorang nelayan yang menangkap ikan dengan tombak.

“Kalau ikan atau udang dari tombak banyak yang nyari. Soalnya masih segar.”katanya bangga. “Ini lagi terang bulan biasanya udang banyak ngumpul nih. Tinggal nyari jala yang besar aja.”katanya lagi.

“Oh,pantesan kok makin lama makin terang ya..padahal makin malam.”kataku kagum.

“Iya, terang bulan.”

Selain itu bapak itu juga suka mengumpulkan batu laut karena bagus untuk membangun rumah.

“Batu laut? Dimana ambilnya pak?”tanyaku dengan bodohnya.

“Ya dilaut..”

“Segede apa pak?”

“Gede-gede.”katanya.

Si Ibu pergi ke tempat penginapan didepan Kami. Digantikan seorang bapak yang mengenakan topi dan baju berwarna biru jeans. Dia dari kota Jakarta dan baru beberapa tahun lalu pindah ke Pulau ini. Kami bertanya tentang Pantai yang paling bagus dipulau ini.

Mereka bilang pengunjung seringnya ke pantai di barat. Di Utara juga ada cuma masih banyak hutan jadi jarang yang berkunjung. Melewati kampung lama. Agak angker karena awalnya tempat kuburan.

Dia bercerita dulu awalnya warga tinggal di kampung lama semua. Terus semakin banyak orang, baru membangun rumah sampai disini, Kampung Baru.

“Sekarang sudah banyak orang Jakarta yang membeli tanah di Pulau ini”katanya.

Pulau Tidung adalah Pulau terbesar di antara pulau seribu. Sedangkan Ibukota pulau seribu ada di Pulau Pramuka. “Jadi kalau mau ngambil uang di ATM harus ke Pramuka dulu.”katanya menambahkan.

“Hari ini ada 2 .000 orang yang datang ke pulau.”katanya bercerita.

“Buseet..”

“Iya, tadi ada 20 orang yang terpaksa pulang lagi karena gak dapat penginapan.”

“Eh, yang tadi jadi pulang?”kata seorang bapak yang lebih muda dan lebih kurus. Entah dari mana asalnya bisa tiba-tiba muncul didepan Kami.

“Ya iya. Orang gak dapat rumah. Penuh semua. Udah dicariin juga gak dapat.”

“Kasihan.”kataku.

“Oh ya mba, kalian sebagai pengunjung gimana menurut kalian tentang pulau ini?”tanya bapak bertopi jeans.

“Hm…bagus pak, cuma pantainya banyak sampah ya..”ujarku mencoba berterus-terang.

“Itu bawaan dari Jakarta mba. Sehari sebelumnya semua warga udah disuruh Pak Lurah sini buat bersih-bersih. Semuanya sudah bersih-bersih. Tapi kalau tiba-tiba air lautnya bawa sampah lagi, mau gimana?!”katanya tampak kecewa.

“iya…. susah juga ya pak..”

“Kalian tinggal dimana?”

“Di Tangerang pak.”

“Oh lewat Kampung Melayu ya?”

“Eh,Gak pak. Lewat Muara Angke.”

“Kenapa jauh amat ?! Kampung Melayu kan di Tangerang.”

“Oh Kampung Melayu bukannya di Jakarta Timur pak?”tanyaku.

“Bukan itu pelabuhan kecil di Tangerang. Besok pulangnya lewat sana aja, lebih dekat. Lebih murah juga kapalnya.”

“Oh ya, berangkatnya jam berapa itu pak?”

“Jam 7 pagi. Cuma sekali. Nanti coba tanya saja di dermaga.”

“Ooh, boleh-boleh pak.” Alhamdulillah, jadi dapat info berharga.

“Nanti pada bakar-bakaran ikan tuh di sana.”kata bapak itu menunjuk ke kerumunan di penginapan seberang yang sudah mulai menyalakan api unggun. “Kalian ikut aja. Membaur aja. Pura-pura yang menginap disitu juga.”

“Gak usah pak. Gak enak.”kataku.

“Iya datang aja.”Kata seorang laki-laki gemuk yang menghampiri Kami. Dia pemilik penginapan Enjoy itu. Dia menyerahkan kartu nama ke Kami, berharap ketika Kami berkunjung lagi bisa menginap disitu.

Aku melirik Lia, sudah jam 9 Malam. Lebih baik pulang sekarang, pikirku.

“Pak, Kami pamit dulu, mau pulang..”kataku

“Loh gak ikut makan ikan?”

“Gak usah pak..”ujarku seraya tersenyum.

“Eh, diantar aja..” Bapak bertopi jeans itu menoleh ke Bapak kurus. “Motor? mana..motor..?”

“Dipake tadi buat manggilin orang-orang.”kata bapak kurus itu.

“Gak usah pak, Kami jalan aja lagi.”

“Bener gak papa? makasih ya. Udah mampir. Jauh-jauh dari Barat.”

“Iya pak, sama-sama. Makasih ya pak..”

Begitu sampai dirumah, beberapa orang bilang kami dicari sama Adi dan juppy. Katanya khawatir karena kami gak pulang-pulang. Anak laki-laki sudah pada tidur bertebaran di ruang tamu dan ruang tv. Kami langsung masuk kamar. Setelah sholat, kami sukses tertidur nyenyak.

Aku bangun subuh-subuh, mandi sekalian ambil wudhu. Menghindari antrian ketika mereka semua sudah bangun nantinya. Ternyata Yurika sudah duluan mencuri start. Setelah selesai mandi, kubangunkan Lia. Ketika pagi menjelang dan semua orang sudah mulai bangun, Adi membagi-bagikan sarapan. Sarapan berupa Nasi, Ayam atau beberapa ada yg mendapatkan cumi-cumi, sayur seadanya dan buah pisang.

Lia mengajak bicara anak laki-laki yang tidur hanya beralaskan springbed, di depan kamar Kami. Mereka mahasiswa Binus semester 2, salah satunya adalah Adik Juppy. Pantes mirip, dalam hatiku.

Ternyata dia juga teman satu kampusnya Adik laki-laki kami di Binus. Mereka memanggil Lia dengan sebutan Kak. Mungkin karena seniornya.

Kami makan bersama mereka, kemudian Yurika dan Astrid juga bergabung dengan Kami. Lalu satu persatu cewek yang lain datang untuk duduk bersama Kami.

Hari ini Kami snorkeling ke pulau Aer dan Tanjung beras. Perjalanan ke Pulau Aer sekitar 1 jam. Pulau Aer katanya dimiliki oleh Tommy Soeharto. Airnya bening sekali. Berwarna hijau dan pasirnya pun putih. Ternyata pasir di kepulauan seribu putih-putih, selama ini hanya terpaku pada pantai di Ancol saja sih.

Di Pulau Aer Kami makan siang. Makan siangnya berisi Nasi, cumi-cumi goreng tepung, sayur seadanya dan buah jeruk. Cumi-cuminya manis, terasa masih segar. Beberapa orang makan di pulau terdekat dan beberapa lagi memilih makan dikapal yaitu cewek-cewek yang berkomplot mendemo si Adi.

Si Adi sepertinya tidak terpikirkan untuk membawa kembali sampah bekas makanan mereka dan bermaksud meninggalkannya di pulau tersebut kalau tidak diteriaki Yurika. “Sampahnya dibawa lagi dong..!”

Kapal bergerak menjauhi Pulau Aer. Tapi berhenti tidak terlalu jauh dari perairan pulau tersebut. Saatnya Snorkling! Aku meminta 1 puntung rokok dari Yurika untuk membersihkan kacamata renang dan pipa pernapasan. Kalau kata temanku, Anak pulau Sabang, tembakau berguna untuk membunuh kuman-kumannya. Jadi tinggal dipatahkan dan digesek-gesekkan tembakau tersebut ke seluruh bagian kacamata dan pipa pernapasan lalu dibilas dgn air laut. Setelah itu semua orang mengikuti caraku.
Satu persatu masuk ke dalam air. Aku melarang Lia melepaskan pelampungnya karena takut nanti kelelahan. Ia ingin berenang lebih dalam.

Tidak disangka ternyata pulau seribu masih memiliki terumbu karang yang Indah. Berbentuk piring yang besar. Jaraknya malah terlalu dekat dengan permukaan air. Aku takut mendekat. Bagaimana bila tiba-tiba ada hewan yang bersembunyi disitu. Selain itu berkali-kali kakiku menyenggol terumbu karang itu dan terluka.

Ikan-ikannya tidak banyak. Tapi terumbu karangnya cukup Indah. Bermekaran dimana-mana. Berwarna hijau, putih, kuning, biru dan merah bagaikan taman di dalam laut. Kami berenang berkeliling untuk menemukan spot yang lebih baik. Hiburan yang mampu membuat Kami melupakan kesalahan si bulu babi. Spotnya tidak terlalu luas tapi cukup menghibur. Setelah hampir setengah jam, satu-persatu kembali ke kapal. Saatnya melanjutkan perjalanan. Si Adi bertanya apakah Kami puas. Semuanya mengangguk setuju.

Kapal berjalan sekitar 30 menit. Aku tidak tahu apa nama daerahnya, yang jelas Kami berhenti ditengah-tengah laut. Begitu masuk, airnya dingin. Ketakutan langsung menyusup kepikiranku. Ini jelas lebih dalam dibanding yang tadi. Aku menengok kedalam laut. Kali ini Terumbu Karangnya lebih besar dari yang tadi. Letaknya lebih dalam walaupun tidak sebanyak tadi. Mereka bermekaran agak jauh. Tidak membentuk taman seperti tadi. Tidak jauh dari situ terdapat terumbu karang yang luar biasa besar berwarna kuning. Yurika bilang dia dan Astrid berenang berhadapan diantara terumbu karang itu seolah-olah mereka sedang di meja makan. Ada-ada saja..

Kali ini Juppy mencoba memotret semua peserta kecuali cewek-cewek yang berkomplot memusuhi si Adi. Mereka menolak untuk difoto! Tepatnya langsung berenang menjauh pada saat sesi pemotretan disebutkan. Lia juga sedang tak ingin difoto. Ah, jadi tak punya teman..

Setelah puas Kami naik lagi ke kapal. Ternyata ada satu cewek yang hilang. Dia berenang tanpa menggunakan pelampung, terdorong jauh oleh arus laut dan terlalu kelelahan untuk berenang kembali ke kapal. Untungnya Adi dan Juppy berhasil menolongnya.

Setelah semua anggota komplit, kapal bergerak lagi. Kali ini Kami berhenti disebuah tanjung. Tak bisa disebut pulau karena terlalu kecil untuk dihuni manusia. Namanya Tanjung beras. Bersih dan sama seperti pulau yang lain, pasirnya putih. Disi pantai yg lain kulihat ada pasir yang berwarna kecoklatan dan lebih halus dibanding pasir pantai yang lain. Pohon-pohonnya sangat jarang. Banyak kerang-kerang berserakan di pasir pantainya. Bentuknya utuh dan warnanya putih bersih.

Orang-orang mengambil kesempatan untuk berfoto. Aku, Lia dan Astrid berenang disekitar pantai. Tidak terlalu dalam tapi arusnya cukup deras. Selain itu didasarnya banyak terdapat kerang atau mungkin hancuran dari terumbu karang jadinya sakit bila dipijak. Aku jadi tak berani berlama-lama didalam air. Setelah itu Kami beranjak lagi untuk kembali pulang ke Pulau Tidung.

Ketika menjelang sore, Aku dan Lia mengikuti cewek-cewek yang lain untuk meminjam sepeda kepada Bapak tua, panggilan untuk seorang bapak kepercayaannya Adi, warga di pulau itu.

Dia menawarkan 15.000 untuk satu sepedanya. Dikarenakan beberapa pengunjung hari ini sudah banyak yang pulang jadi dia bisa mengusahakan mencari sepeda untuk Kami. Aku masih penasaran dengan pantai di Utara yang diceritakan Yurika. Katanya lebih Indah dibandingkan dengan di barat. Kami pun mulai bersepeda untuk ke pantai itu. Kami mencoba mendayuh secepat mungkin sebelum malam mendahului.

Tidak disangka ternyata kemarin malam Kami berjalan cukup jauh. Bahkan untuk dicapai dengan sepeda saja terasa jauh. Kami bertanya ke beberapa warga, jalan untuk ke pantai Utara.

Kami melewati jalan setapak yang kemarin dan terus mendayuh ke arah utara. Kemudian Kami melewati gapura. Disini rumahnya lebih rapat, lebih rapi dan asri. Pasti ini yang dimaksud dengan Kampung Lama.

Orang-orang di Pulau Tidung ramah-ramah. Setiap kali Kami lewat dan tersenyum mereka pasti membalas senyuman Kami.

Begitu pun bila Kami sapa, mereka pasti menjawab. Kami bersepeda terus sampai ke belakang Kampung Lama itu dan ujung-ujungnya Kami keluar di hutan pohon kelapa. Dari sini mulai tidak ada rumah lagi. Hanya ada pohon-pohon kelapa. Terus mendayuh sampai Kami menemukan sebuah Sekolah Madrasah. Kenapa sekolah ini jauh dari pemukiman ya? Ditengah-tengah hutan pula.

Kami melewati sekolah tersebut. Menggayuh sepeda untuk memasuki hamparan padang rumput didepan. Hamparan padang rumput itu setinggi betis. Kami menggayuh sekencang mungkin. Rasanya nyaman sekali. Hembusan angin yang menerpa wajah, pemandangan rerumputan yang hijau membentang dikiri dan kanan serta gemuruh ombak yang bersahut-sahutan, rasanya sungguh nyaman dan damai.

Perasaan mengatakan sebentar lagi Kami akan sampai diujung pulau ini. Suasana sudah mulai gelap. Kami terus memasuki hutan pohon kelapa. Dan rasa takut mulai mendatangiku. Apa yang ada didalam hutan ini ya? Kami cuma berdua dan perempuan lagi. Bagaimana bila sepedanya rusak? Apa mereka akan menemukan kami? Benar tidak jalannya? Pantas tidak kami melanjutkan perjalanan ini?

Tak beberapa jauh dari hamparan rumput itu, Kami bertemu dengan dua orang perempuan yang sepertinya baru dari pantai itu. Aku mencoba bertanya, apakah arah Kami benar. Mereka bilang benar. Jadi Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku melanjutkan menggayuh sepeda memasuki hutan.

Kemudian Kami bertemu sekelompok laki-laki yang tampak kebasahan. Aku bertanya tentang pantai itu. Mereka justru menyarankan Kami untuk pulang saja. Disana sudah gelap dan tidak terlihat apa-apa lagi. Mereka juga bilang pantainya biasa saja. Tidak sebanding untuk dilihat.

Aku langsung menoleh ke Lia. Suara Adzan sudah terdengar. “Kita pulang saja, yuk! Serem..”ajakku.

“Ya sudah.”kata Lia cemberut, dia kecewa.

Kami memutar sepeda untuk kembali ke penginapan. Besok pagi Kami akan melanjutkan perjalanan yang tertunda ini.

Kami sholat di mesjid pertama yang Kami lewati. Mesjid di Kampung Lama. Dibelakang mesjid ternyata langsung tembus ke pantai. Kami singgah sebentar disana sebelum melanjutkan bersepeda untuk pulang ke rumah.

Semua peserta malam itu berkumpul dirumah untuk makan malam. Semakin lama Kami mulai dekat dan mengenal orang-orang dirumah ini. Awalnya anak-anak mahasiswa itu cuek kepada Kami. Tapi begitu Lia bercerita kalau dia Alumni Binus, mereka pun mulai mengakrabkan diri.

Menu makan malamnya ikan goreng dengan sayur nangka. Beberapa orang makan didalam rumah dan Aku serta beberapa cewek yang lain makan diteras.

Yurika dan Astrid bercerita tentang pengalaman mereka, tidur di kursi ruang tamu kemarin malam.

“KA..GAK bisa tidur, gw! Anak-anak cowok itu berisik banget. Pada main kartu di ruang TV.”kata Yurika kesal. “Jadinya gw ‘Eheeem’ in. Udah pada diam tuh. Eh, abis itu berisik lagi. Sial bener! Udah malam bukan pada tidur juga.”tambahnya seraya meniup asap rokoknya ke udara.

“Klo gw sih, bisa tidur.”kata Astrid bangga.

“Iya, lu sampe ngorok gt.”timpal Yurika ketus.

Astrid cuma tersenyum santai.

“Eh, kemarin gw mau pinjam bantal. Kepala gw pegel tidur dikursi. Tapi kalian berdua tidurnya pada nyenyak banget. Gak tega gw.”kata Yurika kepadaku dan lia.

“Wah sorry..sorrry.”kataku menyesal.

“Nah,Malam ini Kami mau numpang tidur di rumah penginapan lain, isinya cewek semua, ada AC pula. Tadi siang Kami ketemu cewek-cewek itu terus minta ijin tidur disitu. Yah, tidur di karpet juga gak papa dari pada disini.”kata Yurika memberitahukan.

“Udah liat rumahnya?”tanyaku.

“Udah, lumayanlah. Bersih dan gak serame ini. Belakangnya langsung laut.”

“Wuiih..kedengeran banget dong suara ombaknya?”tanyaku antusias.

“Mungkin... Oh ya,Nanti bantalnya Kami bawa 2 ya. Buat tidur disana.”

“Iya, bawa aja.”

Aku menceritakan kepada Adi bahwa Kami akan pulang sendiri besok melalui Kampung Melayu yaitu pelabuhan kecil di daerah Tangerang jadi pastinya lebih cepat ke BSD. Awalnya dia tampak ragu dan tidak setuju. Tapi begitu kubilang harga tiketnya lebih murah, dia langsung setuju.

Pagi ini Kami berencana untuk berkeliling pulau naik sepeda untuk terakhir kalinya. Tekad Kami adalah menemukan pantai di utara itu. Menyelesaikan misi Kami. Setelah sholat subuh, Kami segera mengemas barang-barang. Kami berangkat jam 5.20 pagi tapi matahari telah begitu terang. Waktu Kami tidak banyak. Kapal yang menuju Kampung Melayu berangkat pada pukul 7.00 pagi. Kami tidak tahu kapan lagi akan ke Pulau ini jadi bila ini untuk yang terakhir kalinya maka tujuan Kami adalah melihat pantai di Utara itu. Aku yakin pantai ini jauh lebih indah dibanding pantai yang Kami lihat kemarin.

Kami menggayuh sepeda lebih kencang. Rasa sakit di pantat setiap kali sepeda menghantam tanjakan polisi tidur, tidak Kami hiraukan. Sesekali Kami terpaksa membunyikan bel agar tidak menabrak sepeda yang lain. Kami tidak punya waktu untuk berhenti dan memberikan jalan kepada mereka.

Sepeda melaju kencang, melalui jalan yang telah Kami lewati kemarin. Kami mulai memasuki Kampung Lama. Beberapa warga telah mulai beraktivitas. Dalam kondisi sepeda melaju kencang Kami sempatkan untuk menyapa Ibu-Ibu atau nenek-nenek yang sedang menyapu didepan rumahnya.

Sekarang Kami telah keluar di hutan pohon kelapa. Sudah tak terdengar lagi riuh kebisingan aktivitas penduduk, semuanya tertinggal dibelakang Kami. Sekarang tinggal Kami berdua menyusuri jalan untuk semakin masuk ke dalam hutan. Dari kejauhan Kami telah melihat Sekolah Madrasah, berarti sebentar lagi Kami akan melewati hamparan padang rumput. Samar-samar mulai terdengar bisikan-bisikan ombak laut. Kami mulai dekat.

Sekolah Madrasah ini sangat besar layaknya sekolah asrama. Hampir keseluruhan bangunan terbuat dari kayu. Mungkin karena ini hari libur jadi sekolah terasa begitu sepi dan mati. Tidak ada sisa-sisa kehidupan disini bahkan seolah-olah tak pernah ada.

Akhirnya Kami melewati hamparan padang rumput. Ini bagian yang paling menenangkan buatku. Anginnya terasa lebih kencang disini dan pemandangannya begitu hijau.
Alih-alih bisikan, sekarang Kami bisa mendengar gemuruh ombak dengan jelas. Suara debur ombak yang menghantam karang dipinggir pulau ini, lantang dan keras. Antara amarah dan kegirangan karena Kami mengunjungi mereka. Kami memasuki hutan kelapa lagi. Sepi. Rasa takut mulai merasukiku. Kucoba melawan rasa takut itu. Sepeda kugayuh lebih kencang. Tak mempan. Aku pun berhenti. Lia hampir menabrakku dari belakang.

“Kenapa sih tiba-tiba berhenti?”seru Lia kesal.

“Bentar.” Aku meraih Handphone di keranjang depan lalu mulai memilih aplikasi pemutar musik. Aku butuh musik untuk menenangkan dan menguatkanku. hahahaha

“Ya elah..”kata Lia tak percaya dengan yang kulakukan.

“Serem tau! Kami kan jalan paling depan! Gak ada orang lagi disini..”

“Ya udah, biar Kami aja didepan! Minggir!!”

Aku mengeraskan volume suara musik di handphone agar mereka mampu meredam gemuruh ombak yang semakin merajalela.

Handphoneku saat itu hanya mampu memuat 3 lagu yaitu Shall We Dance-Michael Buble, Happy Shalala dan Sahabat Lama nya Ipang. Jadi hanya ketiga lagu itu yang berkumandang berganti-gantian sepanjang Aku menggayuh sepeda, sampai mereka capek.

Hanya 3 lagu itu saja. Tidak lebih dan jelas kurang. Itu pun suka terhenti setiap kali sepedaku menghantam keras batu atau kelapa yang tergeletak di jalan. Handphoneku terbanting-banting dikeranjang sampai akhirnya dia mati sendiri. Aku pun harus berhenti menggayuh sepeda untuk meraih Handphone dikeranjang depan agar bisa kuhidupkan kembali Handphoneku yang telah tergeletak membisu. Kemudian dia pun mati lagi lalu Aku hidupkan lagi. Begitu seterusnya.

Aku adalah Sang Penyambung nyawa bagi Handphoneku. Tapi karena usaha menghidupkan dan mematikan itu aku harus menggayuh sepeda lebih kuat untuk mengejar ketertinggalan dari Lia yang telah melaju jauh didepanku. Rasanya perjalanan kali ini sungguh melelahkan.

Dari belakang rasanya Aku mendengar suara tawa riang perempuan dan bising dari laju sepeda yang digayuh kencang. Perlahan-lahan Aku menoleh ke belakang, berharap itu manusia.

Ada 2 perempuan dengan sepeda mereka yang sedang melaju ke arah Kami. Aku melambatkan sepeda dan segera meneriaki Lia. Mereka bergerak mendekat. Aku tersenyum kepada mereka. Kami tertolong.

“Kalian mau kemana?”tanyaku ramah.

“Ke pantai.”kata perempuan yang didepan.

“Kalian udah pernah ya? Tahu jalannya dong?”

“Udah, kemarin.”

“Kami ikut ya. Kami gak tau jalannya, soalnya.”

“Boleh.”katanya seraya tersenyum.

Lia memandangku tak mengerti. Dia tidak bisa mendengar pembicaraan Kami, terlalu jauh jaraknya. Aku mempersilahkan kedua perempuan yang sepertinya masih mahasiswa itu untuk melewati Kami dan menjadi pemandu didepan. Lia menunggu kedua perempuan itu melewatinya dan juga Aku.

Kami mendengar mereka beragumen. Ternyata ada 2 pantai yang bisa dikunjungi, satu yang jaraknya lebih jauh sedangkan yang satunya jauh lebih dekat. Dan mereka memilih yang jauh. Kami pun mengikuti dibelakang. Bergerak masuk ke dalam hutan. Jalanan mulai menyempit dan mulai melewati pinggir pantai.

Salah satu sepeda perempuan itu mendadak tersangkut tangkai pohon kelapa yang sudah mengering. Tangkai itu tergeletak di jalan dan menarik rantai sepedanya hingga keluar dari geriginya. Putus rantai.

Aku mencoba membantu, melepas tangkai itu dan memasukkan kembali rantai tersebut ke jari-jari sepeda. Lalu kusuruh dia menggayuh ke depan bukan ke belakang.

Kami sekarang sedang diburu waktu dan masalah ini justru membuat Kami kehilangan banyak waktu. Bagaimana kalau kami ketinggalan kapal? Jangan-jangan penghuni hutan ini mencoba menghentikan kami? Mereka menolak kami kunjungi? Mungkin kami memang tidak berjodoh melihat pantai itu? Bagaimana ini???

Rasanya tidak nyaman sekali berhenti ditengah hutan seperti itu. Suara ombak seolah-olah menertawakan kesialan Kami. Aku gagal memperbaiki dan mundur untuk memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki sepedanya. Aku hanya bisa melihat dari jauh. Sedih juga tidak bisa menolong.

Tak beberapa lama mereka berhasil juga memperbaikinya. Senangnya Kami bisa melanjutkan perjalanan ke pantai itu. Aku lalu memungut tangkai pohon kelapa itu dan membuangnya jauh-jauh. Agar Ia tidak menghambat Kami lagi ataupun yang lainnya.

Kami sampai juga ke sebuah lahan terbuka yang langsung ke laut. Banyak batu karang dan tak ada pantai. Seperti patahan tanah yang langsung jatuh ke laut. Tempatnya memang rindang tapi Kami kecewa.

“Bukan yang ini!”kata salah satu perempuan itu. “Ini terlalu jauh. Satu lagi yang lebih dekat itu.”

“Oh itu.”

“Ada lagi ya, pantainya?”tanyaku bersemangat.

“Ada. Satu lagi yang lebih dekat.”

Kami pun beramai-ramai mulai menggayuh sepeda lagi. Kembali ke jalan yang Kami lewati. Kami sampai di pertigaan bila ke kanan ke arah Kampung Lama tapi kami memilih jalan satunya yaitu lurus saja kedepan. Jalanannya menurun ke bawah dan agak licin karena tanahnya becek. Aku bersyukur rem tangannya masih berfungsi baik.

Dari kejauhan Kami sudah bisa melihat laut. Dan terus menurun sampai akhirnya Aku melihat pantai. Kami memarkirkan sepeda sembarangan, menjatuhkan tepatnya, lalu berlari turun ke pantai tersebut. Tidak sebagus dan seluas pantai di Bali. Pesisir pantainya hanya sepanjang 1 km. Sisanya telah ditutupi tumbuhan dan pohon kelapa dan tidak ada lagi pantai.

Meskipun masih banyak ditemukan batu-batu kerikil di dalam air laut yang menjorok ke pantai tapi ini lebih indah dibanding pantai di Barat. Pasirnya halus dan berwarna agak cokelat. Ditengah-tengah laut, sekitar 1 km dari pantai terdapat sebuah pohon besar yang berdiri kokoh. Warna airnya bening kita bisa melihat jelas ke dalam laut.

Kelihatannya laut ini pun tidak terlalu dalam. Aku sedikit yakin untuk mencapai ke pohon ditengah laut itu bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki saja. Tapi aku tidak cukup berani untuk membuktikannya.

Walaupun tidak seindah yang dibayangkan tapi pantai ini lebih bagus dan lebih nyaman dibandingkan pantai-pantai yang ada di Pulau Tidung. Pantai yang di Barat sudah terlalu terkenal dan sumpek.

Masalahnya sekarang adalah Kami tak bisa mengabadikannya lewat foto! Tak ada yang membawa kamera. Hanya sesekali Kami berfoto menggunakan handphone Lia yang lebih canggih dariku. Handphonenya bisa memasukkan 30 lagu, tak sebanding dengan Handphone jadulku. Ironisnya lagi, yg sudah berpenghasilan justru aku. Fiuhhh..

Kami tak bisa lebih lama. Sudah jam 6.40, harus segera menggayuh sepeda lagi untuk mencari kapal. Aku mencuci kakiku terlebih dahulu didalam air laut. Airnya dingin, nikmatnya.

Lalu Kami beranjak pulang. Tak lupa Kami pamitan kepada kedua perempuan itu, karena merekalah Kami akhirnya bisa menemukan pantai ini. Senang rasanya, misi hari ini berjalan sukses.

Kami menghabiskan waktu untuk mencari lokasi dermaga kapal yang menuju ke Kampung Melayu. Harus bertanya dari satu bapak ke bapak yang lain. Dan kebetulan lokasinya tidak jauh dengan dermaga kapal yang ke Muara Angke tapi ternyata berbeda tempat.

Dipisahkan oleh sebuah gang kecil. Padahal sedari tadi Kami melihat gang kecil itu. Tapi siapa yang menyangka itu gang yang menuju ke dermaga sebuah kapal. Kami menelusuri gang kecil itu sampai akhirnya menemukan dermaga yang juga kecil.

Harga tiket Rp. 20.000 dan kapal berangkat jam 8 pagi. Sekarang sudah jam 7.05. Kami berpesan ke nahkoda kapal bahwa Kami akan ikut ke Kampung Melayu jadi bila dikapal kau tidak menemukan Kami maka jangan coba-coba jalankan kapal ini, apapun yang terjadi, kira-kira seperti itu pesan dari Kami. Sang nahkoda menggangguk paham. hahaha

Kami kembali ke rumah penginapan untuk mengambil tas lalu membawa Adi untuk membayar tiket Kami. Kami pamitan dengan beberapa orang yang Kami lihat saja saat itu yaitu Yurika, Astrid dan Juppy. Sebenarnya karena Kami juga tidak terlalu mengenal yang lainnya. Jadi ketika Kami pergi membawa tas, mereka hanya melongo memperhatikan Kami. Kami hanya tersenyum saja kepada mereka.

Kesulitannya sekarang adalah menemukan Adi. Dia masih mengorok di kamar belakang. Setelah menunggu dia mencuci muka, dia setuju ikut dengan Kami.

Begitu sampai di dermaga, Aku langsung menyuruh Adi ke tempat tiket yaitu ke sebuah meja kecil dengan satu perempuan duduk disana. Ia bertugas menyobekkan karcis kapal.

Adi menemani Kami masuk ke kapal, setelah itu dia pamit untuk pulang. Kami pun mengucapkan terima kasih. Dan selesailah tugasnya sebagai pemandu tour Kami.

Kami belum sarapan. Lia meminta duit untuk membeli pop mie dan susu untuk Kami berdua. Sepertinya usaha menggayuh sepeda tadi cukup menguras tenaga dan membangkitkan nafsu makan yang maha dasyat.

Perjalanannya menghabiskan 1-2 jam dan sebagian besar Kami habiskan dengan tidur. Kami berusaha membuat posisi senyaman mungkin dengan menggunakan tas backpack untuk dijadikan sandaran punggung. Atau bisa juga langsung tidur terlentang di lantai kapal yang hanya beralaskan tikar, persis seperti yang dilakukan Lia.

Cerita Kami ternyata belum selesai sampai disitu. Ditengah jalan, kapal Kami mengalami kerusakan. Entah apa yang rusak. Nahkoda menolak memberitahukan penumpangnya. Entah karena malu entah karena Kami juga tidak akan mungkin mengerti. Hebatnya setelah 30 menit, lewat sebuah kapal nelayan.

Beberapa penumpang beralih ke kapal tersebut. Kami pun tergoda untuk ikut. Apa salahnya kalau gratis dan yang penting cepat sampai. Ternyata teman, tidak ada yang gratis didunia ini! Bahkan para nelayan ini menodong Kami. Masing-masing penumpang diharapkan membayar ongkos transit sebesar Rp.1.000.

Kapal nelayan ini tidak beratap alias terbuka jadi luar biasa panasnya. Apalagi karena sekarang matahari tepat diatas kepala. Kami menggunakan sarung Bali untuk menutupi kepala, wajah, tangan dan apapun yang bisa langsung menghitam bila terkena sinar matahari. Perjalanan ini memakan waktu 15 menit saja.

Kami berlabuh di dermaga yang luar biasa joroknya. Airnya hitam dan untuk sampai ke dermaga Kami harus melompat dari satu kapal ke kapal lain. Kapal Kami tidak langsung merapat ke dermaga.

Dari dermaga Kampung Melayu Kami harus berjalan kaki sekitar 1 km untuk mendapatkan angkot.

Perjalanan dengan angkot sekitar 30 menit untuk sampai ke Terminal Kampung Melayu. Setelah itu Kami melanjutkan dengan naik angkot yang ke arah Pasar Anyar. Terakhir Kami masih harus naik angkot lagi untuk ke BSD dan sampai ke Villa Melati Mas.

Kami sampai dirumah sekitar jam 1.30 siang.

No Place like home. Begitu sampai, Kami langsung menyantap sayur singkong dan ayam goreng yang tergeletak pasrah di meja makan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar