Selasa, 07 Agustus 2012

Labirin




bagaimana kamu mengimajinasikan hari ini? tanyanya.

seperti berada dalam labirin, jawab saya. 

labirin yang panjang, penuh kelokan, gelap, dan tak berujung. dindingnya tinggi, berlumut, dan penuh tanaman merambat yang bunganya sedang mekar. baunya harum, tapi jika dihirup dari dekat dalam-dalam, aromanya akan mematikan langsung denyut jantungmu. lantainya dari batu kali, licin, gelap, lembab. di sela batu-batu itu ada batu-batu kecil yang tajam, jadi satu dengan ranting-ranting yang berjatuhan. jika bertelanjang kaki akan lebih baik karena tak akan terpeleset, tapi akan rawan terkena ranting dan batu tajam. ada satu ular yang menghuni labirin ini. dia tak akan mengganggu kalau tak merasa terganggu. tapi darimana saya tahu bahwa saya tidak akan mengganggunya? bagaimana kalau dia merasa terusik dengan keberadaan saya di rumahnya? 

.....dan saya sendirian di sana. tak tahu jalan keluar, tak ada petunjuk, dan saya merasa bodoh. bodoh sekali. karena saya lah yang membuat labirin itu, dan saya juga yang menyesatkan diri di dalamnya. saya tak bisa keluar dari labirin yang semakin lama terasa semakin sempit. dinding yang sama, jalur yang sama, lantai yang sama, pemandangan yang sama kemanapun saya pergi. saya terjebak di dalamnya. sesak, terdesak, tak bisa memberontak apalagi berteriak. percuma, tak akan ada yang mendengar. saya cuma tinggal menghitung detak dan detik. sebelum si ular merasa terusik dan mencari saya. berpacu melawan rasa takut dan waktu, membisikkan doa di sela-sela langkah yang terasa sia-sia..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar