Kamis, 30 Agustus 2012

Pasangan Jiwa



Alika memejamkan mata. Tempat yang sama seperti beberapa tahun silam. Udara yang sama. Debur ombak yang sama. Gelitik pasir yang sama. Warna langit yang sama. Ia masih memejamkan mata dan merasakan angin pantai yang lembab menerpa wajahnya saat tersadar, dan seketika itu hatinya perih. Hanya satu yang tidak sama. Ia sendirian. 

Dilangkahkan kakinya menelusuri bibir pantai, tempat buih dan pasir bertemu, saling memeluk erat seakan melepas rindu, lalu kembali terpisah. Alika merasakan dingin yang menjalar kala kakinya tersentuh buih putih itu. Terasa dingin yang menggigit hingga ke dalam. Ia melempar pandangan, jauh ke garis horisontal yang mulai berwarna oranye. Senja. Alika menghela napas. Lagi, lagi dan lagi. Begitu banyak kenangan yang ditinggalkan senja di pantai ini. Begitu banyak yang sulit dilupakan olehnya. Begitu berat untuk melangkah dan meninggalkan semuanya di belakang. Alika terdiam di sana menatap matahari yang perlahan menghilang, dan terus berdiri di sana sampai senja tak meninggalkan apapun kecuali kegelapan yang menyergap tiba-tiba. Bergegas ia berbalik dan kembali ke hotelnya, tepat di pinggir pantai itu. 

"Atas nama Aditya Alika." Alika menyebut namanya pada resepsionis yang segera mengambilkan kunci kamar yang ia titipkan. Dengan agak tergesa ia berjalan menuju lift. Namun terhenti oleh suara yang dulu sangat akrab di telinganya. Suara yang memanggil namanya. Ia menoleh dan mendapati sosok itu, berdiri di hadapannya dan menatapnya ragu.

"Alika?" 
Alika tak langsung menyahut. Ia perlu mengumpulkan segenap kesadarannya dulu. Ototnya menegang dan rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. 
"Alika, kan?" Sosok itu semakin mendekat. Mendekat, dan mendekat hingga Alika dapat melihat dengan jelas garis wajah yang sangat dikenalnya itu. Harum parfumnya yang masih sama seperti dulu. Ah, Alika cepat mengendalikan dirinya. Ia tersenyum. 
"Halo, Hans.." Tangannya terulur. Tapi Hans mengabaikannya. Ia malah memeluk Alika, erat, sampai Alika tak bisa bernafas.
"Kamu kemana aja? Kenapa menghilang?" Rentetan pertanyaan keluar dari bibir Hans. "Aku masih satu hari lagi di sini. Aku kepingin ngobrol. Bisa kah?" 
Alika terdiam. Tak siap akan hal ini. Ia tak memprediksi akan seperti ini jadinya. 
"Kamu sampai kapan di sini?" Tanya Hans lagi. Tak sabar menunggu jawaban.
"Lima hari kurang lebih..." Gamang Alika menjawab. 
"Great, jadi besok sore kita bisa bertemu kan? Saya tunggu di lobi. Mungkin kita bisa jalan-jalan di pantai. Seperti dulu...." Suara Hans seperti terbang terbawa angin. Sayup-sayup. Mereka kemudian berpisah dengan sebuah janji untuk besok. Alika gundah. Kenapa jadi begini? Batinnya. Bukan ini yang ia rencanakan. Gontai Alika menyeret kakinya menuju lift. Bersiap untuk besok yang pasti akan memporakporandakan hatinya yang telah ia tata sedemikian rupa. 

*
Sore itu. Alika duduk tak jenak. Teh di depannya sudah dingin, pun tak disentuhnya. 30 menit berlalu dari jam seharusnya mereka bertemu. Lobi masih sepi, Alika masih duduk sendiri. Ombak mulai menderu. Alika gundah, matanya menatap nanar berganti-ganti ke arah pintu masuk dan pantai, sambil sibuk menata degup jantungnya yang berpacu. Mungkin pasir dan buih bisa sedikit menenangkannya. Ia tergoda menuju ke sana, tapi tak juga ia beranjak. Bodoh sekali ia, menganggap serius tawarannya untuk bertemu. Tapi entah kenapa masih ada sedikit harap bahwa sosok tinggi itu akan muncul di depannya, tersenyum hangat padanya, menggenggam tangannya dan menggandengnya. Seperti dulu. Ah, Alika bersandar di sofa empuk itu, memejamkan matanya, rasa perih itu masih ada, terasa sungguh di dadanya. Menyerangnya seketika, membuatnya berusaha keras  menghalau. Alika membuka mata.
"Hans?" Ia terheran-heran. Laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan senyumnya yang lebar.  "Sejak kapan kamu berdiri di situ?" Alika setengah mati menahan malu. Wajahnya ia yakin sudah memerah. Hans tertawa. Ia mengulurkan tangannya.
"Yuk. Maaf rapatnya mundur tadi, jadi telat sampai sini." Jelasnya, sambil tetap menahan gantungan tangannya. Alika tertegun. Pria ini, kenapa masih seperti dulu? Kenapa masih bersikap seakan semua baik-baik saja? Ia menatap Hans yang balik menatapnya. Perlahan Hans menurunkan tangannya. 
"Maaf. Begini lebih baik?" Tanyanya. Alika mengangguk. Ia ingin menghindari sebanyak mungkin kontak fisik yang bisa membawanya lagi ke masa lalu. Menghempaskannya ke jurang penuh duri dan mengoyak pertahanannya. 

Mereka berjalan beriringan. Menyusuri garis pantai, menelusuri tempat buih dan pasir bertemu. Dalam hening. Dalam diam. Sampai senja, mereka menghentikan langkah dan menatap matahari terbenam. 
"Aku merindukanmu..." Suara Hans pelan, tapi Alika dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Terdengar keras di telinganya. Hatinya serasa dipukul dengan godam dan pecah menjadi serpihan kecil yang tak mungkin di satukan. Alika menggigil, mungkin Hans bisa merasakannya karena tiba-tiba ia melepas jaketnya dan menyampirkannya di pundak Alika. Seperti dulu. Hans bisa merasakan apa yang ia rasakan, tanpa Alika perlu bicara. Kadang Alika merasa bahwa separuh dirinya adalah Hans, dan separuh diri Hans adalah Alika. Karena mereka bisa saling mengerti dan memahami tanpa perlu banyak kata. Pasangan jiwa.

Angin semakin kencang, memporakporandakan rambut Alika yang tergerai. Mereka masih berdiri di situ, menatap matahari yang semakin tenggelam dan hanya menyisakan kesunyian yang menyakitkan. Alika masih merasakan perih di dadanya, semakin sakit dan akhirnya tak mampu ia tahan lagi. Alika tahu, ini harus terjadi. Ia harus merelakan. Air matanya mengalir. Hans pun tahu, tapi ia membiarkan. Ia mengerti, ia tahu bagaimana tersiksanya Alika. Pelan ia menyentuh tangan Alika, dan ketika Alika tak menolak, ia genggam jemarinya erat. Seakan dengan demikian akan hilang beban yang dipanggul Alika. 

*
Pesawat yang akan membawa Alika pulang masih ditunda. Sambil menunggu Alika sibuk dengan laptopnya. Membuka album lama, membuang yang tidak perlu, dan merapikan foldernya. Sama seperti yang telah ia lakukan pada hatinya, pada masa lalunya. Membuang yang tidak perlu, merelakan, dan merapikannya.  Entah semesta berkonspirasi apa sehingga mereka bertemu di tempat yang sangat tak Alika duga. Tak Hans duga. Selalu seperti itu sejak mereka pertama bertemu dulu. Begitu banyak kebetulan dan pertanda yang mereka abaikan. Sampai akhirnya keduanya menyadari apa yang sebetulnya terjadi dengan hati mereka masing-masing. Tapi sudah terlalu terlambat untuk bicara. Alika sepenuhnya bisa memahami, waktu itu. Tapi ia tak mampu mengerti mengapa hatinya demikian sakit melihat sahabatnya bersanding dengan perempuan yang bukan dirinya. Seharusnya aku yang berdiri di situ, batinnya. Sementara Hans hanya bisa menatap nanar. Alika, sahabat yang seharusnya menjadi kekasihnya itu berdiri tak jauh darinya. Memaksakan senyum, Hans tahu. Ia pun merasakan sakit yang amat sangat. Penyesalan karena cinta yang dirasa tak jua diucapkan. 

Alika dan Hans, kini belajar merelakan. Perlahan memang, karena semua tak semudah membalik telapak tangan. Berjalan di jalur masing-masing. Menapaki konsekuensi dari pilihan yang telah di buat dan tak menoleh lagi. Mereka setuju untuk saling melepaskan, melupakan. Dan mungkin entah suatu masa, semesta kembali akan mempertemukan mereka dengan perasaan yang lebih lega, pikiran yang lebih bijaksana, dan hati yang tak lagi berduka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar