Senin, 13 Februari 2012

Dompet

 Seseorang menguncang-guncang tubuhku.  “Oh jangan sekarang!  Aku harus membunuh Naga itu sebelum Ia menelan kakekku!!”
“Melinda..! Melinda, bangunlah! Bangun..” Ibu membangunkanku.
“Ibuuu!!!!  Ah, padahal sedikit lagi aku bisa menusuk Naga itu dan menyelamatkan kakek..”kataku kesal.
“Ya Ampun.. Kita harus ketempat Kakek sekarang.  Ia sudah meninggal.”
“Hah... kenapa bu?? Kenapa kakek meninggal??”
“Dia sudah tua sayang.. sudah waktunya.  Sekarang cepat ganti bajumu!  Dan bawa beberapa pakaianmu juga mungkin kita akan menginap disana.  Ingat bawa baju saja ya..! kau tidak perlu membawa mainanmu.   Ibu menunggu dibawah.”

Kalau orang meninggal artinya hidupnya di bumi sudah selesai dan pergi menginap ke surga, begitu kata orang-orang.  Tapi kalau nakal, mereka akan dikirim ke neraka.  Tempat dimana anak nakal dan suka melawan orang tua ditempatkan, begitu kata ibu kalau aku membantahnya.  Tempat dimana hanya terdapat orang  jahat yang bermandikan api panas untuk membersihkan dosa-dosa mereka.  Semoga aku menjadi salah satu yg masuk surga jadi aku bisa ketemu kakek.  Kakek orang baik pasti dia ke surga.  Aku harus lebih banyak berdoa agar terkabul.
***
“Kalau kakek meninggal berarti Aku tidak bisa bermain dengannya lagi, ya yah?”
“Iya sayang.  Kau bisa bermain dengan Ayah, kan?!”
“hm..” Aku tidak menjawab.  Tidak Asik bermain dengan Ayah, Ia tidak lihai dalam bermain pedang, tidak seperti Kakek.  Ia bahkan tidak bisa melihat dimana penjahatnya, jadi bagaimana mungkin dia bisa membunuh penjahatnya.  Ketika kuberitahukan dia malah minta istirahat kemudian akan pura-pura sakit bahu sehingga tidak mau main lagi.  Ahh, tidak seru kalau tidak ada Kakek!
“Kenapa kakek harus meninggal yah?”
“eh, yaa...hm..”
“Melinda tadi kau sudah tanyakan?!”jawab Ibu kesal.
“Iya, tapi kenapa harus meninggal?!  Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu agar dia tidak meninggal? Ayaaaaah..!!!”
“Sudahlah melinda, jangan mengganggu ayahmu menyetir.  Bila sudah waktunya, semua orang akan meninggal.”
“Berarti Ibu juga akan meninggal?”
“Kenapa kau bilang seperti itu?? Apa kau ingin Ibu meninggal??”
“hm.. tidak juga sih.”
“Sudah-sudah.  Melinda,tidurlah..  Nanti kalau sudah sampai akan Ayah bangunkan ya..”
“Hmmm..ya sudah.”

Ada banyak sekali orang dirumah Kakek.  Tidak pernah sebelumnya seramai ini.  Mereka berkumpul di ruang tamu.  Mereka mengelilingi seseorang yg tertidur disitu.  Kenapa orang itu tidur dilantai? 
Ibu suka memarahiku kalau aku tidur dilantai.  Aku bisa masuk angin, katanya.  Orang itu berselimut kain panjang  bahkan kepalanya juga diselimuti, namun kepalanya ditutupi kain bening.  Aku mau lihat, ah! 

Ternyata itu Kakek!  Kenapa orang-orang suka sekali melihat orang lain tidur? Aku pergi saja,ah!  Ibu menyuruhku menaruh tasku ke dalam kamar. 
Rumah ini terasa sepi tanpa tawa Kakek.  Kakek kalau tertawa selalu suka dibesar-besarkan.  Suaranya bisa memenuhi rumah ini.  Aku berjalan melewati lorong sebelum menaiki tangga menuju kamarku, ketika kulihat pintu ruangan kerja kakek terbuka.  Kuintip ke dalam, tak ada orang.  Aku masuk lalu saat akan kututup pintu, ada sebuah dompet tergeletak didepan pintu.  Dompet berwarna cokelat, bahannya seperti kulit ular. Hiiiiiii..

“Dompet siapa ini ya?” Aku ingin membuka dompet itu tapi tidak jadi. Ibu tidak suka kalau Aku membuka atau mengambil barang orang lain. “Lebih baik kuberikan saja kepada Ibu..”
Ibu sedang memotong bawang di dapur kulihat Ia mengelap matanya dengan ujung lengan baju. 
“Ibu, Ini dompet siapa?”
“Hah, dompet siapa itu melinda?”
“Kan aku duluan yg tanya ke Ibu??”ujarku kesal.
“Oh, ketemu dimana?”
“Ruang kerja kakek.”
“Oh,Punya kakek kali. Coba tanya Nenek sana..”
“Nenek dimana,bu?”
“Tidak tahu, mungkin dikamar kali.”
“Linaa.. turut berduka cita ya..” Seorang perempuan berambut merah datang menghampiri Ibu, lalu memeluknya. Aneh melihatnya, Ia mengenakan baju hitam tapi rambutnya merah! Wajahnya cantik sih, lebih bergaya dibanding Ibu. Kalau Ibu rambutnya merah gimana ya? Wah, nanti malah lebih sering marah-marah lagi.
“Terima kasih, maya. Kau datang sama siapa?”tanya Ibu melepaskan pelukannya.  Wajah Ibu keliatan sekali tidak sukanya.
“Sama nyokap. Lagi didepan tuh.”
“Lina sayang.. tante ikut berduka ya..”seorang Nenek-nenek ikut datang menghampiri perkumpulan kami.  Nenek itu juga memeluk Ibu.
“Terima kasih tante..”
“Bapakmu itu orang paling baik yg tante kenal. Kalau temannya lagi susah, paling cepat turun tangan.  Yah, mungkin seperti kata orang ya.. Orang baik itu cepat dipanggil TUHAN.”
Ibu tersenyum, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. Ah, aku tak mau lihat! Aku tak suka yang sedih-sedih lebih baik aku cari nenek.

Semua orang sibuk mengurusi pemakaman kakek.  Banyak sekali orang disini, susah jadinya mencari nenek. Aku keluar rumah, diteras depan kulihat ada Ayah.
Aku langsung bergerak mundur dan menutup hidung, tercium bau asap rokok. Ternyata, Ayah sedang merokok. Aku gak suka! Aku kembali masuk rumah tanpa bertanya kepada Ayah.
Tepat saat aku masuk rumah, kulihat Nenek sedang berjalan menghampiri tamu-tamu.
“Nenekkkk!!!”
“Ya sayang..”
“Ini dompet siapa? Punya kakek bukan?”tanyaku cepat.
Nenek melihat sekilas, ada bapak-bapak disebelah nenek mengajaknya bicara jadi tidak bisa mendengarkanku.
“Oh bukan. Sepertinya bukan..”
“Bener bukan, nek..?”tanyaku lagi.
“Iya sayang..”kata nenek seraya mengelus kepalaku. Ia lalu mengobrol kembali dengan bapak tua disebelahnya.
Aku berlari ke dapur mencari Ibu lagi.  Kalau dompet ini bukan punya kakek berarti punya siapa?

“Ibu.. ini bukan punya kakek..!”kataku menarik baju Ibu. Ia masih sibuk berbicara dengan Nenek tua tadi.
“Oh, mungkin punya tamu kali. Coba kamu tanya ke tamu-tamu disini. Mungkin ada yg dompetnya jatuh kali. Coba kamu tanya nenek mira ini..”kata Ibu menunjuk Nenek disebelahnya.
Nenek itu tersenyum kepadaku, Aku tak suka melihatnya.
“Ini dompet nenek?”tanyaku terpaksa.
“Hm, bukan sayang.”
Lalu aku langsung beralih kepada perempuan berambut merah disebelahnya.  Yang jelas sekali adalah anak dari nenek itu. Mata mereka sama, sama-sama suka berkedip.
“Ini dompet tante?”
“Wuah bukan.  Modelnya sepertinya sudah kuno sekali ya.”katanya seraya mengamati dompet yg sekarang sudah ditangannya.  “Tapi bahannya dari kulit ular. Wuah, benar-benar berselera tinggi pemiliknya.”
“Berarti bukan punya tante kan?”kataku seraya mengadahkan tangan, meminta dikembalikan.
“hehehe bukan tuh.”

Aku membalikkan badan dan segera meninggalkan dapur.  Ada banyak tamu dirumah ini makin lama makin banyak orang yg masuk.  Yang benar saja sih Ibu, masa harus kutanyakan satu-satu? Tapi kulakukan juga.  Kuhampiri tamu-tamu itu dan kutanyakan satu-satu. Tapi semuanya mengaku kalau itu bukan dompetnya. 
Eh, kalau tidak ada yg punya.  Kira-kira dompet ini boleh untukku tidak ya? Aku kembali ke dapur.

Ibu sendirian didapur. Ia sedang mengusap air mata melalui ujung lengan bajunya. Ibu sepertinya sedih sekali ditinggal kakek.
“Ibu..”
“Ya melinda..  gimana, sudah ketemu pemilik dompetnya?”
Aku menggelengkan kepala. “Bu, kalau tidak ada yg punya, dompet ini boleh untukku tidak?”
“Eh, masa gak ada yg punya sih?”
“Tidak ada.  Tadi sudah kutanya ke semua orang, bu!”kataku kesal.  Ibu seperti tidak percaya padaku.
“Coba sini Ibu lihat dompetnya.”
Aku menyerahkan dompet itu. Ibu membukanya.
“Eh, ini dompet kartu nama ya..”
“kartu nama apa bu?”
“Kartu nama itu, jadi orang membuat kartu yg mencantumkan namanya agar bisa dikasih ke orang-orang supaya orang itu mengingat nama mereka dan kerjaannya.”
“Hm, aku bisa mengingat semua nama temanku dikelas tanpa harus pakai kartu nama kok.”
“Beda, melinda. Ini untuk urusan kerjaan jadi bukan untuk teman kelas saja tapi orang asing yg baru kenal juga. Karena banyak yg akan diberikan makanya dibuat kartu nama biar tidak lupa.”
“Ooh..”

Ibu mengeluarkan kartu nama didompet itu, mengeceknya satu-satu dan menaruh semuanya dimeja. Kemudian terdengar teriakan dari ruang tamu, nenek memanggil Ibu. Alhasil tugas mengecek dompet beralih kepadaku.  Aku tidak tertarik membaca kartu nama didompet ini, tapi kuambil juga satu persatu kartu nama tersebut biar dompet ini cepat kosong jd bisa kuisi dengan uangku.
Setelah semua kartu nama kuletakkan dimeja, aku memastikan semua lipatan kosong. Eh, ternyata ada satu yg tersisa. Saat kutarik keluar kartu nama itu, jatuh sebuah foto ke lantai. Aku memungutnya. Eh, inikan kakek? Siapa perempuan itu ya? Tidak seperti nenek. Aku mencoba mengingat, wajahnya seperti familiar.

Aku berlari tergesa-gesa ke arah Ibu. 
“Ibu!! ini Nenek Mira bukan yg ada difoto?”
Ibu sedang berbicara dengan Ayah. Mendengarku begitu antusias, Ibu menoleh ke arahku dan mengambil foto itu dari tanganku. Setelah melihat foto itu, Ibu tampak kaget. Ia terdiam.
“Kenapa? Foto siapa itu?”tanya Ayah penasaran.
Ibu tak menjawab, Ia memegang kepalanya seperti akan pusing.
“Lina..”kata Ayah lagi, mulai tampak khawatir setelah melihat Ibu membisu.
“Bukan apa-apa..”kata Ibu. Ia langsung memasukkan foto itu kedalam saku celananya. Tangannya gemetaran, foto itu meleset dari saku dan jatuh ke lantai.
Aku langsung memungutnya. “Ibu ini kakek kan? Kenapa kakek dengan..”
“Foto siapa itu, melinda?”tanya Nenek yg ternyata sudah ada dibelakangku.
“JANGAN!!”teriak Ibu. Ibu berteriak begitu keras, Aku sampai kaget dan langsung menutup telingaku.
Foto tadi terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Nenek lalu memungutnya. Wajah Ibu tampak ketakutan setengah mati.

Sama seperti ibu. Nenek tak bersuara saat melihat foto itu.  Namun wajahnya mulai mengeras, matanya membelalak melihat foto itu. Aku tak pernah melihat nenek seperti ini, wajah nenek selalu ceria tidak pernah semarah ini. 
“Ibu...”panggil Ibu hati-hati kepada nenek.  Nenek tak menjawab, Ia meremas foto itu dan memasukkannya kedalam saku roknya.
“Ibu.., kau tidak apa-apa?”
“Sejak dahulu aku tahu dia tidak pernah rela dijodohkan denganku.  Tapi siapa sangka setelah selama ini, Ia masih tidak rela bersamaku.”ujar Nenek pelan.
Ibu seperti akan menangis, mendengar ucapan nenek. Ia ingin segera memeluk nenek, tapi nenek mengelak.  Wajahnya masih mengeras.

Tamu satu-persatu datang menghampiri kami untuk berpamitan.  Suasana menjadi cair tapi tidak seperti sebelumnya. Ibu mencoba bersikap ramah kepada tamu tapi nenek hanya tersenyum dengan wajah semakin memucat.
“Lina..kami pamit dulu ya. Yang sabar ya..!”kata tante Maya seraya memeluk Ibu.
“Ya, terimakasih maya.”
“Lina sabar ya sayang..”Nenek Mira ikut memeluk Ibu juga.
“Iga, kamu yg sabar ya.. kalau butuh apa-apa bilang saja..”kata Nenek mira kepada nenek.
Nenek hanya diam saja. Nenek mira mendekat, Ia ingin memeluk nenek. Nenek dengan cepat menyingkirkan tangan nenek mira.  Nenek mira kaget melihat reaksi nenek. Ibu dan tante maya juga tampak aneh melihat reaksi nenek.  Wajah ibu memucat, Ia takut hal buruk segera terjadi.

“Iga, kenapa?”tanya nenek mira tampak bingung.
“Tak perlu dijelaskan. Lebih baik kau segera keluar dari rumahku. Aku tak butuh belas kasihan dari tukang selingkuh sepertimu.”
“Mak-maksudmu apa?”
Nenek memalingkan wajahnya. “Pulanglah.. Jangan sampai semua orang tahu kalau kau selingkuh dengan suamiku.”
Nenek mira langsung pucat pasi mendengar ucapan nenek. Wajahnya menegang,Ia membisu tak membalas.
“Maksudnya apa bu?”tanya tante maya kepada nenek mira.
Nenek mira memalingkan wajah, Ia tak mau menjawab.
Nenek tersenyum sinis. “Jangan khawatir, Aku tidak tertarik dengan cerita lama. Selama ini kalian membodohiku tapi Tuhan tidak buta. Akan selalu ada karma yg membalikkan.”
Mata nenek mira menatap tajam ke arah nenek. 
“Hei, sebenarnya kau yg telah mencurinya dariku.  Kau yg tiba-tiba datang dan merusak semuanya. Kalau kau dan Ibumu tidak memaksanya dan keluarganya, Ia tidak akan rela menikah denganmu. Tapi ternyata perasaannya tidak bisa dibohongi bukan salahku bila akhirnya Ia kembali lagi kepadaku.”kata nenek mira seraya tersenyum sinis.  Ada kepuasan dibalik senyumannya itu.
“Ibuuu..!!”ujar tante maya seraya mengenggam lengan Ibunya, Ia tak habis pikir. “Apa yg kau bilang tadi? Tak sepantasnya kau bicara seperti itu..”tambah maya, wajahnya memerah. Ada rasa malu yg ingin dia sembunyikan sekarang.

Kulihat Nenek sepertinya ingin sekali menjambak rambut nenek mira tapi kemudian seorang bapak-bapak datang menghampiri kami.
Aroma kegaduhan sepertinya mulai tercium oleh tamu-tamu disekitar, banyak yg mulai mendekat mencari tahu. Suasana menjadi hening dengan tatapan yg semakin menajam.
“Ada apa ini?”tanya Bapak tersebut.  Semua mata langsung menoleh kepadanya. Dan suasana langsung hening. Semua orang menutup mulutnya rapat-rapat.
“Tidak ada apa-apa, pa.”kata Tante maya cepat.  “Ibu ayo kita pulang..”ujar Tante maya seraya menarik paksa lengan ibunya.
“Iya, lebih baik kita pulang! lama-lama disini aku bisa muntah nanti..!”ujar Nenek mira tiba-tiba.
“Mira jaga mulutmu!”seru bapak tadi.
Nenek mira tidak menggubris ucapan suaminya, Ia memalingkan wajahnya.
“Terimakasih sudah datang, kalian tahu pintu keluarnya kan?! Aku permisi dulu.”Ujar nenek lalu pergi meninggalkan kami yang shock dengan ucapannya.
“Ibu...”gumam Ibu tak enak.  Ia melirik ke anggota keluarga tante maya dan tersenyum terpaksa. “Maaf ya Om, tante.. sepertinya Ibu sedang tidak enak badan. Mari saya antar..”
                                                                                                ***
Rumah sudah kembali sepi, para tamu telah pulang semuanya. Dan kakek juga telah dikuburkan.
“Pulanglah, lina. Besokkan melinda harus sekolah.”kata nenek kepada Ibu.
“hah? Ibu tidak apa-apa sendirian?”
“Tidak apa-apa.  Saat Arnold ada juga aku selalu ditinggal sendirian. Jadi tidak ada perbedaan.”
Ibu langsung memeluk nenek.  Airmata mengalir ke pipi ibu tak pernah ia sadari Ibunya bisa senestapa ini.
 “Sejak dulu Ia selalu terasa jauh, tak bisa digapai. Ada banyak rahasia yg selalu disimpannya Aku bisa melihat dari matanya tapi aku tak ingin mencari masalah makanya semuanya kubiarkan. Itulah mengapa aku tak pernah tahu barang-barang miliknya, termasuk dompet itu.”ujar nenek matanya menerawang.
 “Bu..Aku disini saja. Roni bisa pulang bersama Melinda, tapi aku ingin disini menemani Ibu.”
“Kau tidak boleh meninggalkan keluargamu begitu. Ibu tidak apa-apa. Namanya hidup tidak selamanya berjalan sesuai keinginan.”kata Nenek seraya tersenyum miris.
***
Dompet kakek kini telah resmi milikku.  Sejak kejadian itu sepertinya tidak ada yg tertarik untuk memilikinya.  Dompet itu tersimpan rapi dilemari bajuku, tak pernah aku keluarkan. Aku lebih memilih untuk tak melihat nenek sedih daripada memamerkan dompet tersebut kepada teman-teman kelasku.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar