Rabu, 08 Februari 2012

Isi Dompet


                Rora ketemu Andu di internet. Iya, di dunia maya itu, via yahoo messenger. Mereka berkenalan begitu saja. Lalu via SMS, lalu kopi darat. Seterusnya bisa ditebak lah. Kopi darat berulang, yahoo messenger berlanjut, SMS juga makin gencar.
                Agak kecewa sebetulnya, Rora melihat penampilan Andu. Putih tidak. Tinggi? Hmm, standar standar saja tingginya. Ganteng? Jauuuh dari definisi Rora terhadap cowo ganteng. Rambutnya bahkan tidak stylish, ikal, gondrong, dan tidak teratur (rasanya bahkan rambut itu jarang dikeramas).Intinya, Andu jauuuh kalau dibandingan dengan Febri, pacarnya saat itu. Febri tipikal cowo yang rapi dan pintar. Kuliah di universitas ternama di Bandung. Berasal dari keluarga baik-baik, dan segalanya tercukupi. Andu? Hmm, dia masih kuliah, tapi tak kunjung selesai karena ia sibuk mencari uang tambahan, yang ironisnya seharusnya digunakan untuk membiayai kuliahnya itu. Akhirnya malah ia bekerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil bekerja. Uang hasil bekerjanya itu juga dia gunakan untuk membantu ayahnya membiayai dua adik dan ibunya. Yah, mungkin itu yang menjadi daya tarik Andu di mata Rora. Berbeda dari cowo manapun yang pernah mendekatinya. Jadiah ia tertarik untuk mengenal Andu lebih jauh, dan lebih dekat. Mendua ia jalani.

                Sialnya, setelah berbulan-bulan ia jalani dengan Andu, entah darimana tahunya, tiba-tiba Febri merasa bahwa ada yang lain di hati Rora, dan sialnya, Febri datang saat Andu sedang berada di kost Rora, dan di ruang tamu kost itulah, cinta segitiga itu terkuak.
                “Aku mau tahu cerita lengkapnya. Dari pertama kalian ketemu sampai detik ini.” Febri melontarkan ultimatum.
                “Tunggu, saya nggak tau kalau Rora punya pacar. Dia gak pernah cerita….”
                “…dan kamu juga gak pernah tanya kan?” Rora memotong ucapan bela diri Andu.
                “Kok kalian malah berantem sendiri? Rora, aku mau tahu cerita lengkapnya..” Febri mengulang requestnya.
                “Penting ngga sih nyuruh aku cerita? Ini sudah berjalan hampir enam bulan, ada banyak cerita, bisa sampe nginep kamu disini kalau aku cerita semuanya” Rora kesal. Sudahlah, apa maunya Febri akan ia turuti. Toh ia juga yang salah.
                “Jadi sudah enam bulan…..” Febri menggumam sendiri. “Enam bulan aku dikadalin dan nggak tahu apa-apa. Mencium bibir pacarku padahal mungkin bibir itu sudah dibagi dengan si keriting sialan itu…” Febri mendelik, tangannya terkepal. Andu mendesis sebal disebut keriting sialan. Rora pusing.
                “Bisa nggak kalian berdua pulang dulu? Aku pusing…” Rora memegangi kepalanya. Ruang sunyi sesaat. Andu yang pertama angkat bicara.
                “Baiklah, kalau kamu pusing lebih baik istirahat, kita lanjut besok berundingnya. Terutama kepastianmu sama cowo cepak ini.”
                “Kenapa nggak kita bikin gampang aja sih? Rora kamu pilih sekarang, aku, atau dia?” Febri menantang, rasa-rasanya ia adalah korban, tapi kenapa malah seakan dia yang disisihkan? Kepala Rora terasa mau pecah, mau pingsan rasanya, tapi ia sudah tahu jawabannya. Bahkan di saat seperti ini pun Andu masih memperhatikan dirinya dan nggak egois. Ia memandang letih ke arah Febri.
                “ Maaf Feb, aku pilih Andu, dan sekarang kalian berdua pulanglah. Aku pusing, rasanya mau pingsan.” Rora mengusir keduanya. Andu yang pertama bergerak. Disusul Febri, masih menatapnya tak percaya.
                “Rora, setelah dua tahun, kamu tega? Kita ngga pernah ada masalah apa-apa kan? Apa salahku? Apa kelebihan di keriting itu dibandingkan aku?” Febri berucap pelan, matanya berkaca-kaca. Jujur ini baru pertama kali Rora melihat Febri berkaca-kaca. Dan ia tidak suka.
               
                Begitulah, setelah cinta segitiga yang melelahkan itu akhirnya Rora resmi menjalin hubungan dengan Andu. Tapi ternyata Andu pun masih berhubungan dengan mantan pacarnya. Menjadi mantan karena menikah dengan orang lain, karena Andu tak kunjung melamarnya. Rania namanya. Masih suka telepon, masih suka SMSan, masih suka ketemuan. Rora tahu karena tak sengaja dia menemukan SMS dari Rania, tentang janji mereka untuk bertemu di suatu tempat. Rora bertengkar hebat dengan Andu, sampai Rora menangis, padahal dulu tak pernah Febri membuatnya menangis. Tapi Andu memang membuat Rora mencandu. Ia tak kapok dan tak kuat marah lama-lama. Selalu datang lagi dan lagi dan lagi. Selalu ada saja sisi kehidupan Andu yang membuat Rora terkaget-kaget. Selalu penuh kejutan dan unpredictable. Beda jauh dengan Febri yang bisa disetirnya. Seperti saat Andu mengenalkannya dengan teman dekatnya yang bernama Seta. Sepertinya tak ada bagian tubuh yang belum pernah ditindik dan di tato nya. Rambutnya gimbal, dan berita terbarunya, Seta baru saja menindik alat kelaminnya (!). Meskipun penampakannya sangat sangat “kriminal”, hatinya baik, dan herannya, pacar-pacarnya tak ada yang biasa – biasa saja. Super cantik, super mulus, dan super kaya semua. Makhluk langka, Rora menyebutnya. Juga komunitas Andu yang bebas dan menyenangkan. Membuka mata dan wawasan Rora. Ah, betapa ia menikmatinya.
               
                Yang ribut karena Rora putus dengan Febri adalah keluarganya. Mereka takut Rora tidak bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari Febri. Dan benar saja, saat ayahnya yang beda kota berkunjung ke rumah pakde Rora yang satu kota dengan Rora, beliau tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat Rora datang diantar Andu. Celana jeans belel sobek di lutut, rambut keriting agak gondrong, sepatu kanvas converse, tas ransel, membuat ayahnya memandangi Rora seakan Rora membawa anak berandalan ke rumah pakdenya.
                “Ayah kaget”, kata mamanya. Rora menghela napas.
                “Andu memang penampilannya begitu ma, tapi anaknya baik kok. Dia bisa nyambung ngobrol sama orang-orang di rumah pakde..”
                “Iya, kecuali ayahmu..”
                “Ayah menjaga jarak ma…” Keluhnya. Ayahnya memang menjaga jarak. Ia terkesan menutup pintu buat Andu. Meskipun Andu bisa melebur dengan saudaranya yang lain, tapi tidak demikian dengan ayahnya. Ditambah lagi dengan sikap kaku dan kolot ayahnya, dimana ternyata berlanjut terus sampai usia hubungan Andu dan Rora menginjak tahun pertama. Sikap ayahnya terhadap Andu tetap tak berubah. Rora tak mengerti dimana salahnya. Padahal Andu selalu bersikap baik jika bertemu dengan keluarganya. Bahkan dengan mamanya pun Andu bisa dengan mudah bercengkerama. Okelah, tahun pertama mungkin ayahnya ingin melihat dulu bagaimana Andu sebenarnya. Tapi menjelang tahun kedua juga begitu. Bahkan sampai di tahun ketiga. Bedanya, di tahun ketiga ini ayahnya menanyakan keseriusan Andu. Rora kelabakan. Ia tak keberatan menikah sebetulnya, tapi Andu belum siap. Kuliahnya belum juga selesai, masih cuti karena ia harus bekerja. Pekerjaannya sedang banyak-banyaknya, sebagai desainer grafis di sebuah harian lokal, juga wiraswasta sablon kaos dan desain.
                “Aku mau kita hidup berkecukupan. Aku belum punya modal untuk menikahimu. Uang darimana buat resepsi?” Ujar Andu sambil matanya terus berkonsentrasi memandangi desain kaosnya di monitor.
                “Aku nggak keberatan kok, cuma di KUA aja. Kamu tahu kan aku nggak pernah menuntut macam-macam?”
                “Iya, aku tahu, tapi mau ditaruh dimana mukaku di depan keluargamu?”
                “Mamahku nggak keberatan…..”
                “Tapi ayahmu?” Andu menghentikan pekerjaannya. Ditatapnya Rora. “Aku sayang sama kamu Rora, tapi aku belum punya pegangan. Kamu mau kita hidup biasa-biasa aja setelah menikah?”
                “Mau…” Rora menjawab pelan. Ia sungguh tak keberatan hidup biasa saja dengan Andu. Ia yakin Andu orang yang bertanggung jawab. Lagipula usianya sudah tak muda lagi. Yah, diatas seperempat abad lah. Andu malah lebih tua lagi. Usianya hampir kepala tiga. Mereka berdua terdiam lama sekali. Hanya suara mp3 sayup sayup terdengar.
                “Oke, aku siapkan keluargaku untuk ketemu keluargamu ya..” Ujar Andu kemudian. Rora terlonjak karena kaget.
                “Serius? Tapi ayahku mau kamu datang dulu sebagai pendahuluan…”
                “Aaah, ribet betul ayahmu. Aku harus siapkan uang berapa untuk membawa keluargaku ke Kalimantan? Itu di luar Jawa, Rora, butuh uang yang banyak. Kalau harus aku dulu yang kesana itu artinya aku harus bolak balik dua kali.” Andu menggerutu. Rora tahu Andu sudah letih menghadapi ayahnya.
                “Akan kuatur supaya keluargaku yang kesini. Sekalian waktunya ku pas kan dengan libur lebaran nanti.” Ujar Rora. Andu hanya mendengus.
                “Ya, terserahmu lah…” Lalu Andu kembali berkutat dengan desainnya.

                Rora tak mengerti kenapa ayahnya bisa sekolot itu. Kenapa proses lamarannya harus serumit itu. Sebelumnya Rora sudah bercerita bahwa keluarga Andu tidak semampu keluarga Febri dulu. Tapi Rora bahagia dengannya. Andu orang yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Rora yakin dengannya. Rora sudah bercerita tentang pekerjaan Andu, juga proyek-proyek yang sedang dan akan dikerjakannya. Rora juga sudah bercerita tentang keluarga Andu. Berapa adiknya, ayahnya kerja apa, ibunya kerja apa, kapan selesai kuliahnya, tapi bukannya bertanya tentang keluarga, ayahnya malah menanyakan berapa uang yang akan diberikan Andu untuk resepsi mereka nanti. Rora tak pernah merasa sedemikian kesal dan kecewa dengan ayahnya.
                “Ayahmu cuma ingin anak perempuannya bahagia, sayang..”Ujar mama Rora. Rora menghela napas. 
                “Tapi bukan begitu  caranya Ma, Rora bahagia kok dengan Andu. Ayah tak perlu bertanya seperti itu… “ Rora mendongkol. Seumur-umur ia tak pernah merasa sedemikian kesal dan sebal dengan ayahnya.
                “Nanti mama coba bilang sama ayahmu. Biar adem sedikit.”
                “Iya ma, tolong ya, Rora nggak mau pertanyaan seperti itu terlontar lagi sama ayah saat Andu datang lebaran besok. Malu Rora…”
                E
“Iya iya…”
               
                Itu terakhir kali Rora bicara dengan ayahnya mengenai Andu. Keluarganya akan datang seminggu setelah lebaran, satu bulan dari sekarang. Saat itu Andu akan datang menemui keluarganya, pendahuluan sebelum keluarga lengkapnya datang menemui keluarga Rora. Andu sudah gelisah. Rora tahu ia gelisah karena akan bertemu dengan ayahnya. Bukan dengan anggota keluarganya yang lain. Kata Andu, ayah keras seperti karang. Rora menenangkannya dengan berkata bahwa ia juga ada disana, dan akan mendukung sepenuhnya. Tetap saja Andu gelisah. Rora membantunya memlihkan pakaian, tapi Andu menolak. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, katanya. Ia tak mau memakai topeng dengan alasan basa-basi dan ramah tamah. Baiklah, Rora membiarkan Andu memilih kostumnya sendiri sambil berdoa Andu tidak memakai kostum yang aneh-aneh.

                Kriiiiiiinnggg!
                Weker Rora bordering. Rora tergagap, ia membuka mata dan melihat ibunya di samping tempat tidur membawa jam wekernya itu.
                “Kamu lupa ya hari ini ada acara apa? Cepat bangun. Weker kok dipasang jam Sepuluh.” Ibunya menggerutu. Rora masih bengong, belum sepenuhnya sadar.
                “Lhooo kok malah bengooongg, itu Andu sudah datang diruang tamu, ayo cepetan… Mama tunggu lho..”
                Begitu mendengar kata2 itu Rora bagai tersengat listrik ribuan watt. Ia melompat dari tempat tidur bergegas bersiap. Dalam 10 menit sudah meluncur ke ruang tamu dan ia tertegun melihat Andu. Ganteeeeeenng. Pakai celana bahan, dan kemeja batik. Rambutnya rapi, dan terlihat habis bercukur. Rora berjalan pelan, duduk di sebelahnya dan berbisik “halo ganteeng”. Andu menoleh, tersenyum. Terlihat jelas ketegangan di wajahnya. Mama Rora yang pertama menyapa Andu, berbasa-basi. Sedang ayahnya? Hanya berdehem gak jelas. Tersenyum juga dipaksakan. Tapi lucu. Dua orang laki-laki tercintanya ini sama-sama terlihat tegang.
                Setelah sedikit berbasa-basi dan interogasi (karena mama bertanya ini itu pada Andu, dan dijawab oleh Andu dengan lugas dan apa adanya), akhirnya Andu mengutarakan maksud dan tujuannya bertamu. Mama menjawab dengan santai, dan agak diplomatis. Tapi tiba-tiba, setelah berdehem satu kali, ayah Rora ikut berbicara dan menanggapi maksud Andu. Ia menanyakan hal-hal yang sudah ditanyakan oleh Mama di awal pertemuan. Andu masih menjawab ulang dengan sabar. Lalu ayah Rora bertanya mengenai tanggal akan dilangsungkan resepsi pernikahan. Andu mulai bingung. Rora pun bingung, tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari ayahnya. Setelah itu beliau mulai bertanya tentang masa depan. Tentang akan jadi apa dia nanti. Tentang pekerjaannya, tentang rencana-rencana jangka panjangnya, haduh Rora mumet. Andu pun mumet, ia harus menjawab pertanyaan yg berat dan butuh penjelasan yang berliku-liku. Mama Rora tampak berusaha membantu Andu menjelaskan pada ayahnya. Sampai pada masalah yang paling sensitif: penghasilan.
                “Oh iya dek Andu, dibayar berapa per proyek kalau ada orderan? Rora suka cerita kalau dek Andu lagi ada orderan…”
                “oh, mmm, cukup kok Pak untuk sehari-hari…”
                “Kalau lagi ngga ada orderan terus gimana untuk sehari-harinya?”
                “Saya kan kerja juga pak, desain grafis di surat kabar..”
                “ooh, pasti mepet banget ya dek ya?”
                Andu terhenyak. Dari raut wajahnya Rora bisa menilai kalau Andu sudah hampir kehilangan kesabaran. “Yah, ga sebanyak gaji bapak sih Pak…” Ujarnya asal. Rora menahan napas. Ekspresi ayahnya kaget, tapi lalu tersenyum.
                “Maksud saya, nanti kalau dek Andu menikahi Rora, cukup kan untuk menghidupi Rora? Juga resepsi kalian nanti pasti butuh biaya banyak. Dek Andu mau kasih Rora biaya berapa? Apa sudah dipikirkan?”
                Jreng jreng! Muka mama memerah. Andu cuma bisa bengong dan Rora menatap ayahnya tak percaya. Herannya tampang ayah juga lempeng lempeng aja. Seakan akan itu adalah pertanyaan biasa yang diajukan seorang calon mertua ke calon menantu yang datang untuk membuka jalan melamar anaknya.
                Sunyi sepi senyap.
                Tiba-tiba Andu berdiri. “Pak, Bapak tahu berapa harga celana jeans yang sering dipakai Rora? Saya tahu, karena saya yang belikan. Bahkan jauh lebih murah dari celana yang sekarang saya pakai ini. Sepatu yang saya pakai sehari-hari itu, jauuh lebih mahal dari sepatu yang biasa Rora pakai. Bapak tahu, baju yang sekarang Rora pakai harganya berapa? Saya tahu, karena saya yang belikan.”
                Andu terdiam. Semua diam. Mata Rora mulai terasa panas.
                “Saya cinta Rora, tapi saya gak mau saya dan keluarga saya direndahkan oleh Bapak cuma gara-gara masalah isi dompet. Masalah uang. Kalau setelah ini saya putus sama Rora dan Rora jadi stress karena itu saya gak mau tanggung jawab. Itu salah Bapak.”
                Andu melangkah keluar dan sekejap kemudian terdengar raungan motornya menjauh. Suasana rumah mendadak sepi. Rora lemas di sofa, pandangannya berkunang-kunang. Ia cuma bisa dengar ayah dan mamanya mendekat memanggil-manggil namanya. Lalu gelap. Rora pingsan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar