Jumat, 17 Februari 2012

Kamu..Aku, PUTUS!!

Tiga tahun sudah masa pacaranku dengan Rio.  Waktu berjalan begitu lambat namun rasa telah pergi begitu cepat.  Tak ada lagi percikan-percikan api cinta yg membara, semua terasa hambar merata.  Hubungan ini bertahan karena rasa nyaman dan terbiasa tapi perasaan entah seperti apa.  Seringkali keyakinanku mengguggah pertanyaan dan kritik padanya.  Apakah dia merasakan kehambaran yg kurasa?  Tapi dia tak menjawab.  Bila kukatakan bahwa aku tak yakin, dia pun hanya diam namun bila kutanya, “Masih sayang?” dengan cepat dia akan menjawab “Masih.”  Aku kemudian bertanya pada diriku sendiri dengan pertanyaan yg sama, “Tak tahu”pikirku.

Dahulu di awal pacaran Rio pernah bilang, cinta itu layaknya mahluk hidup. Seiring waktu Ia bisa tumbuh bila terus disirami dan bisa mati bila tidak dipedulikan.
Pada saat itu aku takut sekali cintaku bisa mati tapi saat ini aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menghidupkan kembali cinta itu.

Semua berawal ketika tugas skripsi menyita pikirannya, Ia begitu sibuk mempersiapkannya sampai akhirnya rutinitas menelpon kami lama-lama tidak dilakukan lagi. 
Aku adalah perempuan dengan ego tinggi, jangan harap setiap saat aku akan menelponmu terus. Bila kamu tidak ingat padaku, tak usah berharap aku pun mau mengingatmu!
Seringkali disetiap pertemuan-pertemuan kami yang bisa dianggap jarang itu, masih saja bisa terjadi keributan. Alasannya bisa apa saja dari hal kecil seperti kebiasaannya yang tidak bisa berhenti merokok sampai hal besar yaitu saat kutemukan foto teman perempuan dihandphonenya.  Ia beralasan bahwa itu ulah temannya yg iseng mengirimkan tapi menurutmu bagaimana aku bisa percaya lagi?
Sesungguhnya Aku hanya ingin merasakan perasaan-perasaan indah itu lagi. Detak jantung yang berdegup kencang hingga sesak memenuhi dada karena menahan rindu adalah rasa yg kumau.  Kukatakan semua keinginanku kepada Rio dan dia tak menggubrisnya.  Seolah semua pikiran-pikiranku tak sebanding dengan tugas kuliahnya.  Lelah rasanya.. Salahkah bila Aku ingin putus hanya karena rasa yg memudar?
***
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Hujan turun deras sejak pagi subuh tadi.  Rio menelponku tapi aku sedang tak ingin mendengar suaranya lalu dia mengirimkan pesan, baru kubalas. Ia mengajak bertemu nanti sore untuk merayakan ulang tahunku.  Kujawab iya, walau tidak terlalu tertarik.
Pagi itu Aku pergi ke mall untuk mencari udara segar sekalian membeli buku novel. Novel adalah satu-satunya pelarianku untuk menikmati rasa cinta walau hanya lewat imajinasi tulisan.
Tepat didepan pintu mall saat akan keluar, hujan turun kembali dengan derasnya.  Disamping mall ini ada restoran cepat saji maka Aku menepi kesana sembari menunggu hujan reda. 

Samar-samar kulihat sosok yg amat kukenal. Ia tak sendirian, Rio sedang berbicara kepada seorang perempuan berambut panjang sepinggang. Perempuan yg membuat semua mata lelaki didekat meja mereka selalu mencoba mencuri pandang kearahnya. Emosiku mulai tidak stabil, Aku tidak suka melihat Rio dan perempuan itu berbicara dengan akrab sampai tertawa bersamaan.  Rasanya terlalu akrab untuk sebatas teman. 
Sampai kulihat tangan mereka bergandengan, Aku tidak bisa menerima penglihatanku lagi.  Kuhampiri Rio dan teman perempuannya itu. Wajah Rio tampak kaget luar biasa, sontak ia langsung melepas tangan perempuan itu.

Amarah pasti terlihat jelas diwajahku saat ini karena Rio tampak ketakutan sekali.  Jantungku berdetak tak beraturan. Aku mencoba untuk menahan amarah dan menjaga tindakan bodoh yg bisa kulakukan tanpa sadar.
“Lebih baik kita putus dahulu agar kamu tak perlu selingkuh dibelakangku! Lain kali jangan jadi pengecut seperti ini.”hardikku keras.
“Meli, kamu salah paham. Ini santi, temanku yg mau mencarikan kerjaan untukmu.”ujar Rio menjelaskan seraya meraih lenganku.
“Lepaskan!! Mencari kerjaan atau mencari kesempatan untuk bermesraan hah?!”
“Sayanggg.....”

Aku keluar dari restoran itu.  Aku tidak mau mendengarkan alasannya lagi. Lebih baik putus saja agar aku bisa mulai lagi dari awal. Ternyata Rio mengejarku, Ia menarik lenganku dan berhasil menghentikan langkahku.
“Lepaskan!! Lepaskan kubilang!!”teriakku seraya menghempaskan tangannya yg menggenggam erat tanganku.
“Meli, kumohon jangan terlalu cepat berkesimpulan. Tidak ada apa-apa diantara kami. Aku masih sayang kamu. Tidak worthed kalau kita putus hanya karena masalah salah paham seperti ini.”ujar Rio memohon.
“Salah paham apaan? Kelihatan jelas kalian mesra banget bergandengan tangan!”ujarku emosi.
“Tadi dia mau jatuh, meliiii.. makanya aku pegang. Kamu kan cuma lihat dari jauh jadi gak tahu kejadian yg sebenarnya, ya kan?”kata Rio menjelaskan.
“Aku tidak peduli!! Ini salah paham atau tidak, Aku tidak mau lagi!  Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan kamu!”ujarku tajam.
“Meli.. maksud kamu apa?”Rio menatapku serius.
 “Rio,berkali-kali kukatakan tapi kamu tidak pernah peduli! Hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku sudah lelahhh..”ujarku seraya menghela nafas.  Nada suaraku mulai merendah, Aku ingin ia mendengarkanku dengan jelas.  “Sepertinya Aku sudah tidak punya perasaan lagi kepadamu..”ujarku pelan.
Rio terdiam, wajahnya tampak kaget.  Ia tak membalas ucapanku. 
“Bagiku setiap orang ditakdirkan memiliki pasangan jodohnya masing-masing tapi sepertinya pasanganku bukan kamu..”kataku.
 
Rio semakin membisu.  Kepalanya kini tertunduk lesu, mungkin Ia menyesali ketidakpeduliannya terhadap keluhan-keluhanku selama ini.  Tanda-tanda yg selalu kutunjukkan bahwa Aku sudah tak sanggup lagi menjalani hubungan ini.  Tanda-tanda yg tidak pernah digubrisnya.  Rio mungkin tidak pernah memikirkan bahwa Aku sanggup mengucapkan perpisahan kepadanya.
Kini semua telah terucapkan, kejadian ini tak bisa hilang atau terulang maka perpisahan yg menjadi jawaban. Kutinggalkan dia dalam penyesalannya.

Aku dalam perjalanan pulang ketika handphoneku berdering.  Wajah Rio muncul dilayar handphone yang tak kujawab.  Sejujurnya dada ini sesak menahan perih setiap kali kulihat wajahnya dilayar handphone. Saat kuingat bahwa Aku mungkin tidak akan pernah lagi menerima telepon darinya dikemudian hari.  Sedih hati ini bila teringat kelak kami akan menjadi orang asing yg tidak akan saling memperdulikan dan bahkan tidak akan pernah bertemu lagi.  Airmataku kini mengalir tanpa bisa kutahan.

Handphoneku berdering lagi tapi kali ini bukan dari Rio.  Wajah seseorang yg pernah kulihat sebelumnya, perempuan berambut panjang sepinggang yg bersama Rio tadi.
“Halo..”kataku menjawab telepon.
“Lu yakin sama keputusan lu?”tanya perempuan itu.
“Iya.”jawabku singkat.
Terdengar suara helaan nafas panjang dari seberang telepon.
“Gila lu ya! Baru kali ini ada orang putus dengan cara mengkambing hitamkan cowoknya.”
“....”
“Meli.. halo?”
“Iya.”
“Cowok lu itu orang baik,loh! Gw yg baru kenal aja bisa ngelihat, kenapa lu malah gak peduli ya?!  Heran gw!”
“Santi, lu udah setuju sebelumnya kan?! Jadi please, gak perlu diungkit lagi sekarang. Ini masalah gw.”
“Well, dulu sih gw belum kenal orangnya jadi walau agak aneh permintaan lu, gw jabanin juga!  Tapi sekarang gw tahu orangnya kayak apa jadi aneh aja, lu bisa membuat keputusan kayak gitu.  Gak abis pikir gw, asli!!”
“....”
“Halooo, Meli.. are you there??”
“Iya, gw denger.”
“Ah, terserah lu deh. Tapi next time jangan minta bantuan gw lagi buat urusan cinta-cintaan kayak gini ya!”
“Iya.  Thank’s san.”

Aku telah berhenti menangis.  Hatiku masih meratapi keputusan sepihak yg kubuat tapi sedikit pun aku tak berniat mengubahnya.  Aku ingin bahagia dan menjalani hubungan dengan Rio seperti beban yang selalu menghambat langkahku dan lama-lama menghisap habis jiwaku.  

Aku mendongak ke langit, hujan telah berhenti dan berganti matahari yang bersinar lebih cerah. Kukembangkan senyuman, menikmati rasa setelah hujan.  Ini hanya soal waktu,  Aku pasti bisa lebih ceria dan siap menyongsong hari tanpa kamu.
                                                                           Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar