Minggu, 01 Januari 2012

Cahaya

Masalah Hutang dan tawaran main film yang tak kunjung datang membuat Rio putus asa.  Ia sudah bangkrut dan ketakutan setengah mati dikejar-kejar oleh penagih hutang,tiap hari.  Semua masalah dan kegelisahan dalam hidupnya harus segera diakhiri saat ini juga. 

Rio hampir ditengah jalan sekarang.  Hembusan angin dari laju kendaraan di jalan raya mulai terasa diwajahnya.  Angin malam ini begitu dingin, menusuk hingga ke tulang belulang diseluruh tubuhnya.  Tubuhnya lemas sekali.  Ia memejamkan matanya dan terus berjalan kedepan.  Sebelum menutup mata dilihatnya sekilas ada mobil yang melaju kencang dari kejauhan.  Itu mobilnya, pikirnya. 
Kakinya melangkah terus.  Satu langkah, semakin terdengar bising laju kendaraan ditelinganya.  Kakinya melangkah lagi, hawa dingin semakin mencekik tubuhnya.  Sekali lagi, bisiknya seraya menggerakkan kakinya untuk terus berjalan ke jalan raya didepannya.

Dari kejauhan terdengar bunyi bising rem yang diinjak tiba-tiba. Rio menutup matanya.
Sebuah tangan begitu kuat dan terasa amat panas mendadak mencengkram lengannya dan menariknya ke pinggir jalan.  Rio jatuh terkapar.  
Ada sosok berpakaian serba hitam sedang berdiri tepat didepannya, sekarang.  Rio mendongak untuk melihat dengan jelas.  Siapa yg menariknya?

Sosok itu mulai terlihat jelas, rambutnya panjang dan berantakan.  Pakaiannya serba hitam.  Baju berlengan panjang dan rok panjang hitam.  Ia seorang perempuan.  
Rio membelalakkan matanya, Ia tak percaya dengan yg dilihatnya. Bagaimana mungkin seorang perempuan sanggup menariknya dan menghempaskannya ke jalanan seperti tadi. Sekuat apa dia?

Perempuan itu menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Rio.  Terlihat jelas bekas luka bakar timbul diwajah sebelah kirinya.  Berbentuk akar dari telinga sampai ke pelipis matanya.  Tatapannya memperlihatkan amarah yg luar biasa, kedua mata itu bercahaya.  Rio mendadak pucat, ketakutan.

“Kau tidak mengenal   TUHAN ,ya?”tanya perempuan itu tajam.
“Hah?”Rio menelan ludah.  Ia mencoba mempertajam pendengarannya.  Jantungnya masih berdebar kencang.  Dan rasa takut seperti mematikan semua saraf dalam organ tubuhnya. 
Tapi perempuan itu tidak mengulangi ucapannya.  Ia menatap tajam Rio lalu membalikkan badannya, meninggalkan Rio sendirian dalam keterpurukan. 

Jantungnya masih berdebar kencang.  Siapa perempuan itu? Apa yg harus dia lakukan, sekarang?  Ia  tidak mau pulang ke rumah.  Ia tidak mau sendirian!! pikirnya.  
Ia melihat ke arah kerumunan orang yg lalu lalang.  Perempuan itu berjalan menjauh, punggungnya mulai menghilang kedalam kerumunan orang-orang.  

Tiba-tiba Rio berdiri.  Pandangan matanya berkeliling mencari.  Kini tanpa Ia sadari, Ia setengah berlari untuk menemukan perempuan itu.  Ia mengikuti perempuan itu dari belakang.  Ia sendiri tidak tahu mengapa, tapi terus saja mengikuti perempuan tersebut.  Pikirannya terikat pada cahaya yg tersorot dari mata perempuan tadi, Ia tak bisa melepaskannya.

Perempuan itu masuk ke sebuah gang kecil diantara pertokoan dipinggir jalan.  Bau busuk menyeruak diudara, menusuk ke hidung.  Rio menutup hidungnya.  Ada sampah bertebaran dijalanan, menyumbat got dikedua sisi jalan.  Perempuan itu mendadak berhenti.  Ia melihat kearah gundukan sampah disampingnya.

“Ngapain dia? Eh, ngapain dia mengais-ngais sampah?”ujar Rio tak percaya. Wajahnya tampak penasaran dan jijik.  Rio mendekat mencari tahu.  Perempuan itu mengambil sesuatu dari tempat sampah tersebut.
“Ah, perempuan ini jorok!”cemooh Rio.
Perempuan itu mendekap benda tersebut ke tubuhnya.  Sejenak kemudian benda itu bergerak.  Rio mempertajam penglihatannya.  “Meeong..”terdengar suara lemah dari benda tersebut.
“Ternyata anak kucing..”bisik Rio.  Hatinya mencelos, dia telah salah sangka.

Perempuan itu melanjutkan perjalanannya sambil mendekap kucing tadi.  Rio pun tetap mengikuti dari belakang.  Setelah berjalan lebih dari 30 menit dan melalui beberapa gang sempit, mereka sampai disebuah rumah susun.  Perempuan itu naik ke lantai 3 kemudian mulai sibuk membuka pintu, Ia lalu masuk.  
Pintunya masih terbuka, Perempuan itu sibuk memberikan susu untuk anak kucing tadi. Rio mengintip dari luar pintu.

“Kenapa masih disini? Pulanglah..!”kata perempuan itu tiba-tiba.  Rio langsung mematung.
“Kau tahu aku mengikutimu?”tanya Rio tak percaya.
“Tak ada gunanya mengikutiku. Pulang dan bertobatlah! Berpikir apa yg telah kau buat untuk orang lain dan Tuhan.  Kalau kau ingin mendapatkan rejeki, bagilah rejekimu.  Kalau kau mendekat satu langkah kepada Tuhan, Tuhan akan mendekat seribu langkah kepadamu.”
Rio terpaku, tak menjawab.  
Kemudian entah hembusan angin darimana, mendadak pintu membanting dan tertutup.
Semalaman Rio tak bisa tidur, kata-kata perempuan itu mengusik pikirannya.   


Esok harinya ketika pulang dari kantor Rio melihat seorang nenek sedang kesusahan dengan barang bawaannya.  Rio menghampiri mencoba menolongnya.  Nenek itu baru menemui anaknya dikantor yg sama dengan Rio, sekarang dia ingin pulang menuju rumahnya.  Rio pun bertanya, apakah si nenek memiliki ongkos untuk pulang.  
Nenek itu tak menjawab karena pendengarannya sudah tidak jelas maka Rio tanpa pikir panjang memberikan uang kepada nenek itu.  
Padahal itu adalah satu-satunya uang yg tersisa didompetnya maka setelah itu Rio berjalan kaki menuju rumahnya karena sudah tak memiliki uang sepeser pun.

“Tidak apa-apa, Orang sabar disayang Tuhan” kata Rio menyemangati dirinya sendiri.
Kesokkan harinya, Ia mendapat berita dari managernya bahwa ada tawaran main film dari seorang sutradara.
Ternyata nenek yg Ia bantu kemarin adalah nenek dari sutradara itu.  


Film yg dibintanginya  mendapat rating penonton tertinggi.  Rio mendadak menjadi terkenal dan menjadi aktor dengan bayaran termahal. Tapi Rio tidak terlena, Ia mendonasikan sebagian gajinya ke panti asuhan.  Hal ini membuatnya semakin terkenal karena menjadi aktor yg murah hati.  Penggemarnya semakin banyak dan tawaran main film selalu menantinya.

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah barunya, sekelibat Ia melihat sosok perempuan berbaju hitam seperti perempuan yg dahulu Ia temui.  Ia meminta supirnya untuk memutar arah tapi sosok itu sudah tidak ada.
Terbelengu oleh rasa penasaran, Rio pergi ke rumah susun tempat perempuan itu tinggal.  Ia ingin mengucapkan terimakasih kepadanya.  
Perempuan itu tinggal dikamar paling pojok lantai 3, Rio masih bisa mengingatnya walau telah lewat beberapa bulan yg lalu.  Ia mengetuk pintunya tiga kali, tak ada jawaban.


“Padahal ini sudah jam 8 malam, kemana dia?”ujar Rio penasaran.
Hampir satu jam lebih Rio menunggu didepan pintu kamar perempuan itu.  Tak ada tanda-tanda kehidupan yg lewat.  Ia sudah menyerah, sebaiknya dia pulang dan datang lagi besok.


Besok malam juga pintunya masih terkunci rapat dan tak ada tanda-tanda ada orang didalamnya.  Akhirnya Rio mencari orang untuk bertanya.  Ia mencegat seorang Ibu yang baru saja naik ke lantai tersebut.
“Bu, orang dirumah No.3C kemana ya? Kok dari semalam saya datang gak ada orangnya?”tanya Rio.
“No.3C?”tanya ibu itu memastikan.
“Iya bu.  Orangnya kemana ya? Udah pindah?”
“Rumah itu kosong. Penghuni lamanya sudah tidak ada nak.  Rumah ini tak pernah laku dijual juga.”
“Oh, kemana bu?”
“Sudah meninggal hampir 1 tahun yg lalu.  Karena kebakaran ditempat kerjanya.  Kenapa nak? Kamu temannya?”

Rio terdiam, jantungnya berdetak kencang. Tidak mungkin! bisiknya.  Masih jelas diingatannya, saat bertemu dengan perempuan itu.  Waktu itu baru beberapa bulan yg lalu, belum sampai setahun lamanya. Ia merinding, bulu kuduknya mendadak berdiri semua.


“Kamu temannya?”tanya Ibu itu lagi, tiba-tiba penasaran.
“Eh iya bu. Siapa namanya ya?”
“Hah?”kening Ibu itu mengerut. “Katanya teman tapi kok gak tahu namanya? Anak ini siapanya?”
“Eh, dulu dia pernah nolong saya bu. Tapi kami belum pernah berkenalan.”
“Ooh, hm..  namanya Cahaya.  Anaknya baik, ya?”kata Ibu itu memastikan.
“Iya.”jawab Rio seraya tersenyum. Ia kembali teringat saat-saat perempuan itu menarik kencang lengannya, menyelamatkannya agar tidak ditabrak mobil.

“Semua warga disini juga senang padanya.  Ia agak pendiam tapi suka menolong orang.  Sayang umurnya tidak panjang.  Yah, seperti kata orang.  Orang baik itu biasanya cepat dipanggil Tuhan.”
***
Dengan langkah lesu, Rio kembali ke mobilnya.  “Pak, kita pulang ke rumah.”
Rio termenung selama perjalanan, pikirannya penuh dengan pertanyaan yg jawabannya sama yaitu tidak mungkin.  Tak akan ada orang yg akan  percaya bila kuceritakan hal ini, pikirnya.

Jalanan dipenuhi dengan lampu kerlap-kerlip. Malam dikota ini begitu meriah, seperti tidak ada daerah yg gelap. Rio melihat sebuah taman kota tua dipinggir jalan.  Taman kota itu sudah terbengkalai.  Lampu-lampunya sudah rusak, satu-satunya daerah yg gelap karena tenggelam dalam pepohonan yg menjulang tinggi didalamnya. 
Ada sebuah cahaya tampak menyinari ke satu titik didalam taman tersebut.  Apa itu? sesuatu mengusik pikirannya.

“Pak bisa balik arah? Kita ke taman kota itu.”tunjuk Rio kepada supirnya.
Taman kota itu benar-benar gelap.  Sepertinya tidak ada lagi orang yg datang mengunjunginya. 
Rio masuk ke dalam taman tersebut.  Tak ada orang disini. Ia berjalan semakin jauh masuk kedalam taman, samar-samar Ia mulai melihat cahaya tadi.
***
Rio telah pergi hampir setengah jam yg lalu.  Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda keluar juga dari taman tersebut.  Karena khawatir dan penasaran,  Supir Rio ikut masuk ke taman untuk mencari majikannya.
                                                                               ***
Cahaya tadi mulai terlihat jelas diantara pohon-pohon yg mengitari jalanan setapak.  Ternyata cahaya yg dilihatnya adalah cahaya lampu taman biasa.  Tapi lampu ini telah rusak.  Posisinya menyorot kebawah bukan keatas.  Cahayanya menyorot ke gundukan sampah dibawahnya.
                                                                              ***
Supir Rio akhirnya menemukan Rio.  Rio sedang berdiri terpaku dibawah satu-satunya lampu taman yg masih menyala ditaman tersebut.
“Eh, apa yg dilakukan Pak Rio? Kenapa dia membongkar-bongkar sampah disitu?”ujar Supir itu tak habis pikir dengan tingkah laku majikannya.  Tapi Ia hanya diam, tak berani mengganggu.

Rio mengambil sebuah benda dari gundukan sampah tersebut.  Ia lalu mendekapnya erat ke dadanya.  
Benda itu kemudian mengeluarkan suara, “Meong..”
“Oh anak kucing!”ujar Supir itu bergumam sendiri.


Rio mengelus lembut kepala anak kucing tersebut. Kejadian ini sama dengan yg pernah dilihatnya beberapa bulan yg lalu saat bersama perempuan itu.  Entah apa maksudnya?  Tapi yg jelas Ia tahu harus memberi nama apa untuk anak kucing yg lemah ini.


“Ayo cahaya, kita pulang..”ujar Rio yg semakin erat mendekap anak kucing tersebut.
Hatinya pilu, mendadak ia merindukan sosok perempuan itu.
                                                                               ****

1 komentar:

  1. bagus, religius sekali cerpennya, ga bisa ditebak, tapi boleh ya kata "Dan" dipakai di awal kalimat?

    BalasHapus