Selasa, 21 Mei 2013

Menuju Kawah Bromo Pada 9 - 11 Mei 2013 ....

Sudah dari 2 tahun yang lalu Aku mencari info soal perjalanan ke Bromo. Sudah ambil cuti tapi malah beralih ke Bali. Selama 5 hari Aku keliling Bali bersama, Ninna. Tersesat berdua, berantem berdua lalu panik berdua.




Rencananya Januari 2013 kemarin, Aku dan Ninna serta Zahra berencana ke bromo, tapi gagal. Dana tidak mencukupi, entah mengapa rasanya aku miskin betul saat itu. Si Ninna juga ada urusan kerjaan lalu Zahra masih dalam masa karantina pemulihan setelah operasi. Bukan..bukan operasi kelamin kok. :D 


Akhirnya Aku memutuskan jalan sendiri dengan ikut trip Bromo and rafting oleh vendor Smartrip Tgl 9 Mei 2013 kemarin. Temenku awalnya ada 2 orang yg mau ikut, cewek dan cowok. Yang cewek, si Ela ternyata sudah DP duluan. Sedang yg cowok masih ragu dan terakhir gak jadi karena ada kerjaan. Feelingku mengatakan mungkin kalau kubilang ikut sejak awal, dia akan lebih mengusahakan untuk pergi. *kepedean* 

Berangkat ke statiun senen lalu naik kereta matarmaja yang terkenal itu, Excited banget meskipun sampai di statiun agak telat. Mepet, jam setengah 2. Mata berkeliling mencari ela, tidak ketemu. Ditelpon pun enggak diangkat. Dia sms suruh telp yudha (tour guidenya). Kutelpon si yudha, gak diangkat juga. Mulai panik, kucoba lagi menelponnya dengan mata berkeliling mencari kayak orang linglung, gimana kalau sampai ketinggalan kereta?? Saat itulah Aku menoleh ke belakang dan menemukan muka yg familiar,si yudha. 

Dia tanya “Smartrip?”. “Iya. Gw nisa.”jawabku. Lalu dia menyerahkan 2 tiket kereta PP. Setelah itu Aku disuruh masuk. Aku pun masuk ke dalam kereta mencari tempat duduk dan si Ela yg entah dimana. Aku turun keluar dari kereta lagi. Aneh saja duduk sendirian tanpa ada teman. Masa travelling seperti ini, mana asiknya. Akhirnya kutelpon si Ela, diangkat! Kesendirianku akhirnya terselesaikan. Aku berkenalan dengan temannya ela; Vidya, lalu temannya vidya yaitu Rima dan kakak sepupunya ela, uni wit.

Seseorang pernah bilang, kereta api berangkat telat itu hal yang biasa tapi ternyata bisa rusak juga. Gensetnya entah hilang, entah kurang, sampai akhirnya butuh perbaikan dan kami terpaksa menunggu selama hampir 3 jam. Jadwal kereta jam 2 siang baru berangkat setengah 5 sore! Sempat kereta dipindah-jalurkan tapi tetap tidak jalan maka kami terdiam dalam panasnya kereta yang tidak pakai jendela itu selama 1 jam. Kemudian kereta pindah jalur lagi untuk perbaikan dan mulailah si Ela, teriak-teriak marah. Langsung dia bentak petugas pertama yg ia temui. Terus dia kejar petugas lain sampe ke ruang kantornya, minta ganti rugi kalau sampai 3 jam keretanya masih tidak jalan juga. Hebatnya setelah itu tak sampai 10 menit tiba-tiba gensetnya sudah benar dan bisa jalan! Tahu gitu dari awal saja kulepas si ela, ide dalam hati. Hahaha 

Aku duduk di gerbong 3, no.21. Ternyata sudah ada 2 cowok duduk di bangku depan. Satu mas-mas bernama aldi, dia juga mau ke bromo. Satunya lagi bapak tua bertopi hitam *lupa namanya*. Ternyata teman duduk disebelahku juga cowok, Ia teman sesama pengikut smartrip, Dito namanya. Kursi kami untuk 3 orang dan saling berhadapan sedangkan kursi yg di seberang kami adalah kursi 2 yang saling berhadapan juga. 

Meskipun yg di tempatku ini kursi untuk 6 orang tapi yg menempati cuma kami berempat jadi lumayan lapang buat selonjoran kaki. Kereta ekonomi ini berhiaskan AC ruangan dengan kaca jendela yang diisolasi paksa agar tak ada angin yg lepas. Di seberangku ternyata salah satu penumpangnya adalah uni wit. 

Selama perjalanan aku mengobrol dengan bapak tua dan aldi di depanku. Bertanya kapan sampai, melewati statiun apa saja, sambil menikmati pemandangan sawah hijau yg tersaji di balik jendela. 

Hari mulai gelap, tidak ada pemandangan yg bisa dilihat. Sudah magrib juga. Aku beralih ke tempat duduk uni wit, numpang sholat duduk. Ketika balik ke kursi sendiri, mata mulai meredup. Bukan nisa namanya, kalau susah tidur.:P Aku duduk rapi, membenarkan rok, menyilangkan tangan di dada lalu tinggal menutup mata maka Aku pun sukses menghilang ke alam mimpi. 

Lewat dari statiun Blitar petugas kereta datang menghampiri, mereka membagikan popmie dan aqua kecil sebagai kompensasi atas keterlambatan kereta kemarin sore. Kenapa baru dibagikan sekarang? Kenapa pas banyak yg turun baru dibagikan yak? tanya kenapa. Sebelum turun Aku sempat berkenalan dengan Adi. Awalnya dia diajak ngobrol oleh uni wit. Duduk bersebrangan dengan kursiku. Ternyata dia temannya vidya dan mengaku sebagai temannya Ela juga. 

Kereta akhirnya tiba di Malang jam 11 siang. Kami bergegas berfoto di depan Balai Kota Malang yg posisinya tak jauh dari statiun. Cukup berjalan lurus sekitar 1 km dari statiun. Setelah berfoto kami berjalan lagi menuju tempat charteran mobil di depan sekolah, apa gitu. *lupa coy* Para cewek langsung berangkat ke Desa Gubuk Klakah (tempat homestay) sedang yg cowok masih berusaha mengejar sholat jumat. Di sini aku berkenalan dengan Fitri, Yuni dan Atu. Kami satu mobil dan satu homestay. Teman yg sampai sekarang masih bisa dicontact di facebook. 


 (peserta komplit, kayaknya :)

(aku, uni wit, rima & vidya)

Perjalanan ke desa Gubuk Klakah kurang lebih 30 menit. Cuaca sudah mendung ketika kami mulai memasuki desa. Anehnya kata supir yg mengantar kami, sudah hampir 20 hari desa itu tidak diguyur hujan. Banyak rumah yg menanam pohon apel malang disini. Jenis apel malang yg berwarna hijau dan berukuran kecil, ia tersebar hampir di semua halaman rumah penduduk.

Begitu sampai di homestay makan siang sudah terhidang, menunya pecel (khas jawa banget dah). Ternyata homestay yang kami tempati menjadi basecamp tempat makan. Lumayan, jadi orang pertama yang bisa ngembat makanan.



Berhubung sudah siang dan langsung rafting ke Sungai Amprong, kami para cewek memutuskan untuk tidak mandi.Huahahaha. Aku,ela, uni wit, vidya dan rima sepakat untuk satu group dengan nama Qimin Angels. Qimin itu nama guide rafting kami. Kebayang, kan? Bangganya dia, punya angels kayak kami?? Huahahaha.

Sungai Amprong ini airnya jernih, berbeda dengan sungai Citarik di Sukabumi yang semakin banyak debit airnya semakin keruh airnya. Nama vendor raftingnya Ndayung Camp. Di sini kami tidak banyak menggunakan dayung, malah tidak disarankan juga. Cukup digoyang alias lompat-lompat di tempat duduk boatnya, setiap kali boatnya nyangkut menghantam batu atau stopper, biar bergerak. Guidenya saja yang menggunakan dayung untuk membantu mengarahkan. Seandainya boleh memilih, lebih baik banyak pakai dayung ketimbang goyang-goyangin boat. Seluruh badan retak rasanya, sepulang dari rafting tersebut. 

Satu lagi yg berkesan adalah ada satu medan yang kita harus terjun curam ke bawah layaknya naik niagara di dufan. Tingginya antara 3-4 meter. Aku yg duduk di depan langsung merosot ke ujung boat. Harus memegang tali boat sekuat mungkin agar tidak nyemplung ke dalam air. Antara mengerikan dan seru. Hasil foto juga terlihat keren jadinya.
(Paling depan helm biru itu Aku, Ela, dibelakang ela; Vidya dan selanjutnya Rima lalu bos Qimin :D



Saat rafting, Sheila; satu-satunya tour guide smartrip yang perempuan, sempat terjatuh dari perahu boat mereka dan hanyut sekitar beberapa meter di depan kami. Bos qimin sempat meminggirkan boat kami, demi membantu menyelamatkan sheila yang dari group lain itu. Alhasil selesai rafting terlihat Sheila berjalan agak pincang karena terbentur batu ketika jatuh.

Waktu sudah masuk magrib ketika kami selesai rafting. Sampai di homestay langsung bikin nomor urut masuk kamar mandi. Kemudian kami menikmati makan malam yg telah disediakan oleh si ibu pemilik homestay. Menu kali ini gulai ayam. "Gak usah banyak comment, makan aja."kataku kepada Ela ketika wajahnya mulai berubah saat menyicipi makanan.

Jam 1 pagi, alarm kami masing-masing telah berbunyi. Kami bergegas bangun, saatnya berburu sunrise. Orang-orang pada shock melihat sarung tangan pinjamanku. Sarung tangan yang sepertinya buat kondisi winter. Soalnya tebalnya kayak sarung tangan tukang bangunan, begitulah kata si Atu. Beda lagi dengan vidya, Ia pakai sarung tangan, tapi atasnya bolong. Layaknya sarung tangan motor,ini mah tetap aja kedinginan!! Hahaha. Lalu si Rima cuma pakai jaket kaos dan demi mempertebal kehangatan, dia masukin sarung bali ke dalamnya. Penuh dah tuh badan.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar