Senin, 20 Mei 2013

suatu senja di trotoar

"bisakah mata kalian berhenti merayapiku?

gadis itu membatin dalam hati. ia merasa tak ada yang salah dengan pakaian yang ia pilih hari ini. cuma rok terusan selutut yang sama sekali tidak ketat. dalam hati ia merutuki kekasihnya yang terlambat menjemput sehingga ia bosan dan memilih untuk pulang berjalan kaki. rumahnya tak jauh dari toko buku tempat mereka janjian tadi.

trotoar terasa sangat jauh, lampu jalan sangat redup dan angsana sepanjang jalan terlihat seperti raksasa yang menutupi cahaya terang. asap rokok dan bau kencing membuatnya sulit bernapas. terlebih mata mereka, mereka yang berdiri berjajar berkelompok di sepanjang trotoar itu tak henti-henti menatapnya. seperti mata kucing besar mengintai buruan. gadis itu merasakan tatapan mereka bergerak dari atas, ke bawah, lalu berhenti tepat di wajahnya. ia mempercepat langkah. ada tiga lampu jalan yang mati di tengah trotoar itu. beberapa meter setelah itu keramaian. ia berdoa dalam hati.

suara langkah kaki dan gemeretak tegel trotoar yang terinjak membuat jantungnya berdegup kencang. di depan gelap gulita. hanya lampu kendaraan yang lewat sekali dua kali yang membantu penerangannya. ia mendekap tasnya erat-erat, mencoba tetap tenang tapi semakin mempercepat langkah. di belakangnya, suara semakin dekat, sementara di depannya, berjajar mata-mata nyalang, dengan kurang ajar menyunggingkan senyum penuh nafsu. ia menjerit tertahan ketika tangan kasar salah satu dari mereka menyentuhnya. ia berlari namun sial, tegel yang retak itu menyandungnya dan ia terjerembab. kini mereka mulai tertawa. tawa mereka ada di mana-mana. gelap. gelap gulita. kemana mobil-mobil itu? ia menjerit. tak ada yang mendengar. ia berdoa sementara tangan-tangan kecilnya mulai sibuk menghalau banyak tangan besar dan kasar yang menjamahnya. ia jijik. mereka bukan manusia, mereka binatang berwujud manusia.

susah payah ia berusaha bangkit. ia berusaha melawan. cahaya. berlari sekuat tenaga menuju cahaya. suara-suara itu memudar. langkah kaki yang mengejarnya menjauh. ia terengah. bajunya lusuh. di bawah lampu jalan, di sebuah perempatan, ia tergugu. Tuhan, di mana tempat aman? mengapa sungguh sulit hidup sebagai perempuan?

- ditulis di suatu senja, di sebuah kedai kopi di perempatan yang ramai setelah betul-betul berlari di sebuah trotoar -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar