Selasa, 31 Juli 2012

Beranjak, Dari Entah Apa. Kamu, Mungkin?



entah mengapa, malam buta mataku terbuka tiba-tiba
ada desau angin, dan suara gesekan daun kelapa
juga samar hempasan ombak, begitu dekat, begitu nyata
seolah laut hanya sejengkal jauhnya



dan gara-gara mataku yang tiba-tiba terbuka itu, aku teringat padamu, lelakiku
dingin menyergap, begitu otakku mengumpulkan memori tentangmu
kepingan masa lalu yang berlompatan tak tahu malu
tak menyadari bahwa sesungguhnya sang empunya tak mau lagi mengingat itu


ah, lelakiku
tergila-gila padamu, itu aku
apakah kamu tahu, dentuman hebat yang kurasa di hatiku
setiap kulihat wajahmu, sosokmu?
apakah kamu tahu, desir darahku yang terpacu
saat mendengar suaramu?


bulu kudukku meremang, saat teringat nafasmu yang memburu, di telingaku
saat-saat kita sedang menuai rindu
seakan ingin kukejar nafasmu yang memburu itu, dengan nafasku
dengan jiwaku, dengan tubuhku
berpacu di sela-sela sibukmu


setelah itu kita akan bermimpi
mimpi tentang semua janji yang entah kapan tertepati
sambil kau tautkan jari-jemari
menelusuri nadi
membisikkan cinta dengan perlahan dan hati-hati


ah, lelakiku


ingin kuulangi saat-saat kita bersama
berbaring bersisian di atas pasir putih, dengan bintang-bintang di angkasa
sementara kamu sibuk bercerita tentang asal usulnya, aku sibuk berdoa
kepada bintang jatuh di atas sana, yang entah jatuh kemana
aku berdoa agar waktu terhenti saat itu juga
agar kamu hanya menjadi millikku saja
milikku saja...


betapa kudamba hadirmu
betapa kusesalkan waktu yang terlalu terlambat untuk kita bertemu
sungguh, jika bisa memutar waktu, aku lebih memilih untuk pergi menjauh, dan tak menghiraukan sapamu, senyummu, kharismamu..
sehingga kamupun akan berlalu, dan begitu juga aku



ah, lelakiku
dosakah aku, yang terlalu jauh memberikan hati untukmu?
dosakah aku, yang tak bisa menjaga hatiku agar tidak jatuh kepadamu?



tapi disinilah aku


berpacu dengan waktu yang seolah mengejarku
berhadapan dengan wajah-wajah yang menatapku marah, muram, sendu
dan suara-suara yang didengar telingaku,
menuntutku untuk bisa menepikanmu, menghilangkanmu, menghancurkanmu, meraibkan bekasmu
dalam setiap sudut kalbu
dalam setiap sentuhanmu yang terasa panas di kulitku
dalam rasa bibirmu yang dingin dan lembut, di bibirku


ah, lelakiku 
mungkin aku tak mampu melupakanmu
tapi aku pasti mampu berlalu
sehingga tak lagi risau akan segala tentangmu


dan entah suatu waktu jika semesta merancang sebuah temu
bisa kukembangkan senyum termanisku
tanpa ada getar apapun di hatiku
dan menyapa tanpa ragu
apa kabar kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar