Rabu, 18 Juli 2012

Sepucuk Surat Untuk Cerutumu


Mata ini baru akan terpejam, ketika aku teringat, ah, aku berjanji akan menulis surat kepadamu,
Bukan, bukan surat cinta, karena aku sendiri tak tahu apa definisi cinta sebenarnya. Bagiku cinta hanya bisa dirasakan, bukan di gambarkan dalam sebuah surat.
Bukan pula surat keputusan seperti yang sering ku keluarkan di kantor, surat macam itu hanya membawa kesulitan.
Aku hanya ingin menulis sebuah surat. Sebuah kenang-kenangan yang akan membuatmu terus teringat padaku. Sebuah memorial. Dari aku untuk kamu.

Isinya apa ya? Apa enaknya ya?
Kurasa aku akan menceritakan, betapa aku jatuh cinta kepadamu saat pertama kita bertemu.
Ya, terasa begitu kuat saat itu.
Entah apa yang menarikku, karena bagi orang lain kamu sama sekali tidak menarik.
Tapi sejak saat itu hatiku terpaut, erat melekat tak bisa lepas, dari hatimu.
Mungkin karena warna kulitmu yang tidak putih. Mungkin karena rambutmu yang agak kemerahan dan kasar. Mungkin karena gigimu yang tidak rata, atau karena beberapa jerawat yang muncul di wajahmu.
Aku sendiri heran. Pelet apa yang kamu tanamkan kepadaku?
Tapi semakin lama kurenungi, pelet itu adalah kamu sendiri. Dirimu sendiri.

Aku teringat siang yang penuh peluh itu.
Di kamar kost, 3 x 4 yang sempit dan pengap.
Kau sulut cerutumu sambil memandangku.
"Gila" Kau bilang. Tak lepas kamu memandangku yang masih tergolek. "Gila" Kamu bilang sekali lagi. Aku tertawa keras sekali, lalu bangkit dan merebut cerutumu. Ikut menghisapnya.
Dan hari-hari berikutnya sudah bisa ditebak. Kamu dan aku bagai amplop dengan perangkonya. Lengket. Seperti kamu dengan cerutumu.

Tapi tiba-tiba kamu berhenti mendatangiku.
Aku tak lagi mendengar desah napasmu yang memburu. Atau tatapan teduh matamu. Atau candamu yang selalu bisa membuatku tersenyum saat hariku kelabu. Kamu seperti luruh menjadi abu, lalu hilang tertiup angin. Hatiku terasa disayat sembilu. Ngilu.

Kamu pergi begitu saja. Tiba-tiba. Tidak ada pesan, tidak juga kecupan. Meninggalkanku, meninggalkan janji jani yang pernah kita patri dalam hati. Meninggalkanku yang masih merindu akan sentuhmu. Akan hangat dan dingin bibirmu kala melumat bibirku. Akan kokoh bahumu yang selalu setia menampung keluh kesahku.

Kamu meninggalkanku di sana. Di tanah merah basah yang penuh dengan bunga-bunga. Indah perpaduan warnanya, tapi aku tak rela. Sungguh tak rela. Kau pergi begitu mendadak, karena jantungmu berhenti berdetak.

Ah, jika waktu bisa diputar kembali, ingin aku merebut cerutu itu dan membuangnya ke kali. Semua, semua cerutu-cerutu itu. Agar ia tak bisa menyakitimu. Agar kamu tetap berada disini disampingku. Sampai akhir waktu. Sampai kita berdua menjadi renta bersama..

picture from google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar