Rabu, 18 Juli 2012

Elegi


Elang tidak menyadari dia ada. Itu saja. Padahal dia selalu ada. Dekat, namun tak pernah disadari. Entah karena tertutup layar laptopnya, atau tertutup kertas-kertas yang selalu saja menggunung di mejanya, atau terhalang partisi dan ruangan-ruangan, atau entah apalah lagi. Kalau dilihat-lihat, ruangan mereka hanya dipisahkan oleh beberapa meja dan dua partisi. Pun sebetulnya mereka berada di lantai yang sama. Lantai 27. Dimana frekuensi pertemuan mereka seharusnya sering dan berulang-ulang. Mereka menggunakan pantry yang sama, melaksanakan ibadah juga di tempat yang sama, toilet pun berhadapan. Khusus toilet tidak digunakan bersama ya, karena beda jenis kelamin. Pokoknya, seharusnya mereka sudah sering saling melihat dan familiar dengan raut wajah satu sama lainnya. Tak mungkin mereka tidak saling familiar. Logikanya demikian sih.

Elang memang super sibuk. Dia satu level di bawah manajer, dimana pekerjaannya lebih banyak daripada manajer karena manajernya hanya tahu beres dan tinggal stand by tanda tangan. Manajernya percaya sepenuh hati dengan kemampuan Elang, dan memang Elang mampu melakukan itu semua. Perihal promosi, hanya tunggu waktu dan tunggu keluasan hati si manajernya saja untuk melepaskan anak buahnya yang gemilang itu. Dari segi fisik, dia punya segalanya lah. Tinggi, kulit sawo matang, tampang lumayan, gaya keren, materi juga ada meskipun tidak berlimpah. Belum berlimpah, maksudnya. Untuk menjadi berlimpah  tunggu promosi itu tadi sebetulnya. Orangnya juga ramah meskipun tampangnya agak cool, agak serius. Apalagi kalau sedang berkutat di balik laptopnya sambil mengenakan kacamata minusnya. Wuiih. 

Elang sering tidak menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran gosip para wanita di kantor. Itu karena tidak satupun wanita di kantor yang menarik hatinya. Meskipun jelas-jelas wanita itu menaruh hati padanya, cantik dan punya 'sesuatu' di luar kecantikannya. Tak satu pun. Para wanita itu juga tak henti-hentinya bersolek dan berusaha meningkatkan kapasitas diri agar di lirik sekali saja oleh Elang. Ah, mungkin mereka hanya kurang beruntung. Karena tiba-tiba yang membuat Elang melirik adalah seorang wanita biasa yang pendiam, yang tidak pernah ikut bersolek, dan sama sekali tidak pernah menjadi pusat perhatian.

Elang sedang merenggangkan tubuhnya, memutar pinggangnya, dan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk melancarkan aliran darah yang tersumbat karena terlalu banyak bekerja ketika matanya tiba-tiba bersitatap dengan sepasang mata yang bulat, bening, berbulu mata lentik, dan dinaungi dengan alis yang proporsional di ujung sana. Tatapan itu begitu polos, tanpa tendensi apapun. Hanya sekedar menatap, dan kebetulan bertemu dengan tatapan mata Elang. Sekian detik tatapan mereka bertemu, akhirnya Elang yang kalah. Ia menunduk, matanya mencari-cari pijakan, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Ke meja, ke kaca, ke ruang sebelah, ke luar jendela, ke mana-mana. Ia mengerjap ngerjap sambil berpikir, 'apa itu tadi? Siapa itu? Kuat sekali auranya mengikatku'. Ia sibuk meredam suara gemuruh di dadanya. Ingin rasanya ia mengintip sekali lagi pemilik mata indah itu, namun tak kuasa, tak ada keberaniannya. Entah menguap kemana. Maka dengan tujuan ingin menjernihkan pikirannya yang terkacaukan tiba-tiba itu dia beranjak menuju kamar mandi, yang tentu saja melewati ruangan tempat gadis itu berada. 


Elang, sang superior itu, bangkit berdiri dengan susah payah. Susah payah menahan keinginan matanya untuk mencari-cari gadis itu. Susah payah pula berjalan melewati ruangan tempat gadis itu tanpa menoleh ke arahnya. Ia pasang tampang cool seperti biasa, tapi keningnya berkerut tanda sedang berpikir. Sampai kira-kira lepas dari jangkauan pandang si gadis, ia berjalan setengah berlari ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. 


Siapa gadis itu? Etha, namanya. Margarita nama aslinya, entah kenapa panggilannya Etha, bukan Ita. Memang hanya gadis biasa, dalam artian tidak pernah ikut rumpi-rumpi ria dengan yang lainnya. Juga jarang bersolek ulang setelah beribadah siang dan sore. Dia apa adanya. Karena memang sudah bawaan lahir parasnya ayu. Kosmetik hanya akan menutupi ke-ayu-annya itu. Dan matanya, matanya memang luar biasa. Bulat, bening, bulu mata lentik, alis yang proporsional, dan agak sayu. Bukan salah dia sebetulnya kalau Elang sampai shock mendapatkan matanya dipagut oleh mata Etha. Karena memang saat itu Etha sedang agak melamun, dan kebetulan persis mengarah ke tempat Elang duduk. Bukan hanya Elang saja yang kaget sebetulnya, Etha pun demikian. Etha kaget karena tatapan tajam Elang sedemikian membakar tatapan sayunya. 'Apa ada yang salah dengan mataku?' pikirnya. Sampai dengan Elang mengalihkan pandangan pun ia masih tak habis pikir. Tak mengerti. Karena Elang yang biasanya terlihat sangat tenang, menjadi tidak tenang setelah insiden tatap menatap itu. Terlebih saat itu Elang langsung melesat ke kamar mandi dan kembali beberapa saat kemudian dengan wajah agak basah tanda habis dibasuh. Ah, ada-ada saja.


Rasa penasaran memang anugerah bagi setiap manusia. Karena dari rasa penasaran itulah kadang terbuka jalan menuju sesuatu. Dan karena rasa penasarannya itulah Elang akhirnya memberanikan diri bertanya pada teman akrabnya satu kantor tapi berbeda divisi, Bimo. Bimo tertawa terbahak-bahak sekaligus kaget karena selama sekian tahun bekerja di kantor yang sama, tak pernah satu kalipun Elang bertanya tentang seorang wanita. Ada juga Bimo yang kelewatan salam yang disampaikan wanita-wanita itu untuk sahabatnya, Elang, yang seperti biasa tak pernah ditanggapi sama sekali. Dan betapa gelinya Bimo melihat raut wajah Elang saat mengucap ulang nama panggilan wanita itu. 'Etha'. Begitu hati-hati dan diucapkan dengan takzim. Bimo sangat mengenal Elang. Temannya itu tidak pandai berbasa-basi. Setelah ini, entah cepat atau lambat, ia pasti akan mengintai buruannya. Lalu menerkamnya, dan membawanya pergi dengan cengkeramannya yang kuat. Persis. Persis seperti namanya, Elang. 


Seperti yang telah diramalkan Bimo, Elang memulai perburuannya. Mengintai dengan sangat hati-hati dan perlahan. Tatapan mata mereka semakin sering berpapasan, dan fisik mereka semakin sering berdekatan. Dua minggu berlalu, tapi sapaan yang berani Elang lontarkan hanya sebatas 'hai', atau 'halo', atau yang paling banter kalau pas bertemu di ruang ibadah: 'mau barengan sholat?'. Pernah suatu saat di kala hujan sore-sore, jam pulang kantor sudah lewat, Elang mendapati Etha sedang duduk persis di dekat jendela, menatap hujan di luar. Posisi tubuh dan cahaya yang menimpa, entah bagaimana membentuk siluet yang sangat indah. Indah di mata Elang, tentunya, yang secara diam-diam mengabadikan dalam kamera ponselnya. Dikuasai oleh insting menerkam, kakinya melangkah mendekati siluet itu. Tapi yang dilakukan hanya berdiri kikuk sambil ikut memandang hujan di samping Etha, yang dengan segera menyadari kehadirannya. Etha mendongak, dan sejurus kemudian Elang menunduk, dan mata mereka kembali bertemu. Tak ada yang bersuara, hanya mata yang berbicara, dan senyum yang mengembang perlahan. Beberapa menit kemudian Etha melirik ponselnya yang menyala, lalu bangkit dan berkata: 'duluan ya...', dan bodohnya Elang tak mengucapkan apa-apa. Hanya menatap sosok itu berlalu. Itulah saat paling indah yang pernah dialaminya bersama Etha. 


Etha menjadi semakin bingung. Ia mulai terpengaruh kharisma Elang yang tampaknya semakin sering - baik secara sengaja maupun tidak - berinteraksi dengan dirinya. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang dalam. Sesuatu yang ingin disampaikan tapi sang empunya rupanya masih menahan. Lama kelamaan Etha menikmati kejadian saling tatap yang semakin intens ini. Lama-kelamaan ia menjadi semakin sering mencuri pandang ke ruangan Elang, hanya untuk mengharapkan bahwa Elang sedang memandang ke arahnya juga, dan secara aneh mendapati dirinya yang kecewa, saat Elang sedang tidak memandang ke arahnya. Puncaknya adalah saat hujan sore-sore waktu itu. Memang, hanya tatapan mata yang berbicara, dan Etha merasakan itu. Merasakan sesuatu yang sangat dalam. Dan senyum yang terkembang itu, senyum yang penuh makna, penuh cerita, penuh rahasia. Rahasia yang cuma mereka berdua yang tahu. Ha! Etha jatuh cinta.


Apakah Elang juga jatuh cinta? Iya. Dengan tegas ia mengakui. Mengaku hanya kepada Bimo, kawan karibnya sejak lama. Tapi ia tak mau sudut-sudut kantor, tembok, meja, kursi, lemari di kantor tahu bahwa ia jatuh cinta. Maka ia simpan baik-baik rasanya yang membuncah. Ia teruskan perburuannya, ia lanjutkan pengintaiannya, sampai dia merasa bahwa Etha telah merasakan kehadirannya, baru ia memberanikan diri untuk membawanya pergi. 


Etha tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Ia terjebak dalam perasaannya sendiri. Ia menyesal telah mengizinkan ada cinta lain yang menelusup ke ruang kalbunya. Ia tak sanggup menangkis pendar-pendar rasa yang hinggap di hatinya. Ia tak boleh, ia tahu. Tapi ia ingin terus maju. Ia tak ingin mengingkari hatinya yang mulai mendua. 


Ya, Etha sudah menikah. 


Ya, Elang akhirnya tahu.


Ya, dan Bimo akhirnya tak tega untuk tidak memberitahu sahabatnya itu. 





Gerimis senja itu. 

Elang dan Etha, di tempat yang sama. Depan jendela lantai 27. Saling bicara dalam diam, dalam sunyi, dalam rasa yang membuncah, tapi tak dapat diekspresikan lebih dari genggaman tangan. Elang tak mau melepaskan, Etha tak mau dilepaskan. Tapi mereka dihempaskan kenyataan. Dihadapkan pada persimpangan jalan yang mereka sudah tahu harus kemana, tapi enggan. Ah, rupanya pepatah cinta tak harus bersatu itu baru mereka rasa sekarang.

Senja mulai pudar, meninggalkan dua insan yang masih dalam keheningan. Masih berpikir mengenai segala kebetulan. Kenapa baru sekarang?

Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran dalam pikiran. Dan kedua tangan yang masih saling bertautan. Dan bola oranye yang bergulir perlahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar